Rabu, 10 Juli 2013

10072013, Hal Baru yang Membarukan

Diawali oleh doa setelah bangit kembali dari tidur dan melihat jam. Kala itu menunjukan pukul 4 lebih. Menunggu untuk sedikit lebih larut, hingga akhirnya mulut menyantap makanan yang ada. Subuh tiba, ritual harian dengan tepat waktu berhasil dilaksanakan setelah melaksanakan ritual lain yang kebaikannya melebihi bumi dan isinya. Dalam kantuknya seusai beribadah, kembali badanpun terlempar dan terpejam sesaat.

Matahari telah muncul dari ufuk timur, mata yang tersibak cahaya kembali mengisyaratkan badan ini untuk beraktivitas dan berharap itu dalah hal yang bermanfaat. Menengok peliharaan yang sedang tertidur, bangunlah mereka semua karena suara plastik yang berisi makanan. Setelah perut mereka membuncit, akhirnya tangan yang lain bisa mengurus barang-barang yang banyak digunakan namun lupa untuk dipenuhi keterawatannya.

Semua mengkilap dan siangpun mulai terasa, bersuci setelah berkotor-kotor memenuhi hak barang-barang yang ada menghantarkan diri pada kala tengah hari yang masih kurang sekian menit. Tak lupa mengharap rizki-Nya, ruh ini tergerak untuk menatap Tuhan yang kala itu menjanjikan mudahnya rizki pada barang siapa yang menjadikan dirinya sebagai tamu-Nya. Mudah sekali bagi-Nya dalam memberi, karena memang Dia maha pengasih. Kalamnya, yang genap melaksanakan ritual tersebut dalam 12 paket ibadah akan Dia bangunkan 1 istana di negeri impian kelak.


Tak terasa waktu berlalu, sedikit menikmati mentari, panggilan siang berkumandang. Kembali menyucikan diri dan menghampar sajadah, ritual sunnah yang dicontohkan Sang Rasulpun dilakukan, kemudian berjalanlah kedua kaki ini ke tempat dimana komunitas yang Rasul bangun melakukan ritual wajib bersama. Silaturahim menjadi cemilan yang asik setelahnya, kemudian memakmurkan rumah dengan kembali melakukan ritual yang juga dilakukan oleh Sang Rasul.

Sembari memutar pengeras suara yang melantunkan Outlandish dan Sami Yusuf dari media digital, akalpun mulai sedikit bertafakur. Indahnya jika hari diisi pula dengan lantunan kalam-Nya, pikirnya. Huruf demi huruf dibaca dengan asyik, melupakan waktu yang ternyata telah lewat 1 jam, bertepatan pula telah selesainya 1 bab dari 30 bab yang ada. Kembali mata melirik peliharaan setelahnya. Sedikit terlena, memori ini lupa akan tugas yang telah lama menggunung. Pekerjaanpun mulai dilakukan dengan sedikit kantuk, tak terasa panggilan sore kembali terdengar sayup-sayup tertandingi pengeras suara yang masih bernyanyi.

Langkah berlari kecil dan sampailah pada rumah-Nya yang paling dekat. Dia memang memiliki banyak rumah untuk dikunjungi. Bertemu sapa dengan tetangga yang ada dan memandangi ruang yang penuh dengan mukena-mukena kecil yang didalamnya terdapat pribadi-pribadi yang masih suci, ternyata ada program pendidikan spesial saat itu. Kembali pulang dan sedikit mengistirahatkan raga. Petang hampir menjelang saat mata terbuka. Tak lama dalam hiitungan setengah jam, panggilan petang akhirnya membuat pikir ini yakin, saatitulah perut ini dan ribuan bahkan jutaan perut lain di daerah ibu kota Jawa Barat dapat menyantap makanan, setelah seharian cukup bersabar, semoga sabar tersebut lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Semua rentetan kejadian ini memang sering terulang, khususnya sebagai momen tahunan. Namun itulah yang cukup dirindukan. Momen yang membuat diri lebih spesial dari biasanya, momen yang membuat-Nya pun lebih spesial dari biasanya. Refleksi Sang Rasul dapat sedikit dilakukan dengan hikmah dari aktivitas sehari ini, jika biasanya sibuk dengan tugas dan sekelumit aktivitas duniawi, kini doa bagi-Nya dikala dini hari menghantarkan pada begitu banyak berkah terkhusus bagi terpenuhinya nikmat batin dengan ketenangan. Ramadhan namanya, sepotong masa yang puji syukur kembali mengingatkan diri akan hakikat-Nya dan sepotong masa yang sedikit memberi rasa baru bagi saya, muslim yang baru.


Bumi Allah, 2 Ramadhan 1434 H – 10 Agustus 2013 M
Annas Ta'limuddin Maulana

0 komentar:

Posting Komentar