Minggu, 24 Februari 2013

Dasar-dasar Arsitektur: Proses Perancangan Arsitektur

II. PROSES PERANCANGAN ARSITEKTUR

Dalam proses perancangan arsitektur ada beberapa tahap yang dilakukan seorang arsitek, di antaranya:

1. MENGGAGAS PROYEK

  • Didorong oleh Kebutuhan
  • Didorong oleh Keinginan (untuk memanfaatkan nilai lahan)
  • Kadang didahului oleh studi kelayakan (kelayakan teknis, ekonomi, lingkungan)
 Ilustrasi menggagas ide.

2. MELAKUKAN BRIEFING PROYEK
  • Merupakan perintah dari pemilik proyek/pemberi tugas/klien kepada arsitek berupa:
  • Gagasan yang sudah ditentukan secara lengkap dan komprehensif dalam bentuk Program Kebutuhan
  • Gagasan yang belum lengkap benar dilengkapi sambil proses perancangan berjalan
  • Gagasan yang belum ditentukan ditentukan sambil proses merancang mengalir
 Ilustrasi suasana breifing.

3. MEMPROGRAM KEBUTUHAN
  • Disusun oleh klien atau dengan bantuan konsultan, berisi:
  1. Apa yang harus dibangun ?
  2. Berapa banyak ?
  3. Berapa besar?
  • Persyaratan yang diinginkan, misal:
  1. Kedekatan ruangan
  2. Kualitas
  3. Harga, dsb.
  • Lebih baik dibuat secara partisipatif, melibatkan calon pengguna/pemilik
  Ilustrasi suasana programming.

4. MENGANALISA PROGRAM
  • Menganalisa program ruang yang diminta oleh klien
  • Melakukan studi banding proyek dengan fasilitas sejenis
  • Menganalisa standar dari literatur dan peraturan

5. MENGANALISA TAPAK
  • Menganalisa daya dukung lahan (land carrying capacity) untuk dibangun (iklim, cuaca)
  • Menganalisa kondisi topografi lahan (kemiringan, arah aliran air permukaan, dsb.)
  • Menganalisa peta permasalahan (riwayat bencana, konflik, polusi) dan potensi (pemandangan, nilai sejarah) yang dimiliki tapak
  • Menganalisa bangunan dan pohon eksisting pada papak
  • Menganalisa ketersediaan infrastruktur di sekitar lokasi tapak (air bersih, drainase, jaringan listrik, telepon, dsb)
  • Menganalisa kondisi lalu-lintas keluar/masuk/di sekitar tapak
  • Memperhatikan berlakunya peraturan bangunan setempat (kepadatan, ketinggian bangunan, aturan khusus)
  • Memperhitungkan ketersediaan dan harga bahan bangunan, ketersediaan tukang di lokasi, dsb.
 Gambar rencana tapak.

6. MENGONSEP RANCANGAN
  • Rancangan disusun oleh arsitek melalui proses trial-error
  • Rancangan biasanya dengan sketsa dan/atau maket
  • Rancangan dapat merupakan perwujudan dari:
  1. Solusi pragmatik atas permasalahan desain
  2. Analogi dari suatu gejala alam
  3. Kemiripan dengan bangunan lain yang sudah standar / mapan (preseden)
  4. Pada kasus tertentu perlu melibatkan calon pengguna secara partisipatif

Gambar konsep rancangan.

7. MENGGAMBAR PRA-RANCANGAN
  • Pra-Rancangan merupakan gagasan rancangan menyeluruh, komprehensif, belum detail
  • Pra-Rancangan disajikan dalam gambar proyeksi ortogonal, perspektif, dan maket
  • Pra-Rancangan perlu didiskusikan dengan klien
  • Pra-Rancangan dimintakan Ijin Prinsip Pembangunan kepada Pemerintah Kota/daerah setempat
  • Pra-Rancangan dikoordinasikan dengan konsultan/tenaga ahli pendukung (struktur, mekanikal, elektrikal, dsb)
  Gambar tampak dan denah prarancangan.

8. MENGGAMBAR RANCANGAN
  • Rancangan dilakukan setelah ada persetujuanoleh klien
  • Rancangan diperinciasecara teknis dan ekonomis yang terukur dari hasil tahap pra-rancangan/rancangan skematik
  • Rancangan terkoordinasi dengan konsultan struktur, lanskap, mekanikal, elektrikal, dsb.
  • Rancangan dilakukan dengan perhitungan
  • Rancangan berupa gambar-gambar teknis dan terukur dibuat untuk internal konsultan
  Gambar denah, tampak, dan potongan rancangan.

9. MENYUSUN DOKUMEN KONSTRUKSI, GAMBAR KERJA, ATAU DED (DETAILED ENGENEERING DRAWING)
Digunakan untuk:
  • Permohonan Ijin Mendirikan Bangunan kepada Pemerintah Kota/Daerah
  • Mengadakan Pelelangan guna mendapatkan kontraktor dengan harga penawaran paling dapat diterima
  • Sebagai panduan dalam pembangunan oleh kontraktor, tukang bangunan dsb.
  • Produk berupa Dokumen Pelelangan pekerjaan arsitektur, interior, struktur mekanikal, elektrikal, pekerjaan lahan dll, yang terdiri atas:
  • Dokumen Gambar Kerja sangat rinci
  • Dokumen Spesifikasi Teknis dan Administrasi rinci
  • Rencana Anggaran Biaya (RAB) rinci
 Gambar dokumen konstruksi.

10. MENGAWASI LAPANGAN SELAMA KONSTRUKSI
  • Mengecek kesesuaian pekerjaan kontraktor / tukang di lapangan dengan rancangan bangunan
  • Melakukan koreksi rancangan untuk mengatasi persoalan yang baru ditemui di lapangan
  • Para tukang dapat berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah teknis rancangan di lapangan, misalnya dalam rancangan detail

Ilustrasi pengawasan lapangan.




Sumber:
Mata kuliah Dasar Perencanaan dan Perancangan (AR 1101) tahun 2011, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung oleh Ir. Ahmad Rida Soemardi, M.Arch. MCP. & Ir. Budi Rijanto, DEA.

0 komentar:

Poskan Komentar