Arsitektur

Konten yang berisi materi, tugas, dan karya, khususnya saat menjadi mahasiswa arsitektur.

Grafis

Konten yang berisi kumpulan dan koleksi karya grafis pribadi.

Islam

Konten yang berisi pemahaman materi, perspektif pribadi, dan artikel ringan yang dikemas dalam bahasa yang mudah dimengerti.

Informatika

Konten yang berisi kumpulan materi dan karya dalam menggarap bidang informatika.

Wisata

Konten yang berisi catatan perjalanan dalam berwisata, baik berupa sekedar jalan-jalan, backpacking, studi banding, tour, dll.

Sabtu, 19 Februari 2011

Tuhan dan Iblis: Kebaikan yang Relatif dan Kebenaran yang Absolut



***

Mahasuci Allah swt. yang telah mengizinkan seluruh makhluknya hidup menjalankan setiap peran yang Dia inginkan. Mahakuasa Allah swt. yang telah mengizinkan setiap makhluknya bebas hidup tanpa sedikitpun pungutan biaya dari setiap nafas yang tehirup dalam menjalani hidup.

Sahabat, hanya sedikit hal yang ingin bagi, karena hanya ada satu hal yang diberi. Seorang bijak mengatakan, “Kebaikan dan keburukan adalah suatu keniscayaan. Namun perlu diingat, kebaikan itu relatif dan kebenaran itu absolut. Karena kebaikan dan keburukan itu berbeda. Namun segalanya, kebaikan, kuburukan, bahkan kebenaran, seluruhnya adalah kuasa Tuhan, Allah swt.”.

Ketika kita hidup sebagai manusia, sesosok makhluk Allah swt. yang paling sempurna di antara makhluk-Nya yang lain, kita mulai belajar bagaimana mengendalikan segala macam pemikiran dan logika yang begitu derasnya mengalir hingga terkadang kita berlebihan dalam segala macam logika dan batasan akal kita sebagai manusia. Namun mari kita cermati. Sebut saja makhluk ciptaan Allah swt. yang Maha Pencipta lainnya seperti: malaikat, jin, dan makhluk biologis planet bumi lainnya –monera, protista, fungi, plantae, dan animalia–, hingga terakhir manusia, memiliki peranannya masing-masing dengan segala potensi yang telah Allah swt. beri.

Plantae atau tumbuhan, merupakan makhluk Allah swt. yang dapat melakukan metabolisme hidup dengan ‘meracik’ makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari dalam merombak senyawa anorganik (senyawa yang tak hidup) menjadi senyawa organik (senyawa hidup) yang akhirnya dapat dikonsumsi. Dengan kata lain anabolisme. Hingga akhirnya tumbuhan merupakan grassroot bagi seluruh makhluk biologis lain untuk hidup dan terciptalah rantai makanan sederhana. Maka coba renungkan sebuah firman Allah swt. yang Maha Memiliki Nama-Nama Indah:

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 13)

Animalia atau hewan, merupakan makhluk Allah swt. yang hidup bergantung pada makanan-makan organiknya yang tumbuhan hasilkan, sehingga siklus kehidupan berjalan secara teratur. Atau dengan kata lain katabolisme. Hingga hewan pun dapat tetap survive tanpa harus memiliki peranan tumbuhan dalam merombak senyawa anorganik menjadi organik. Dalam hal ini, manusia memiliki peranan yang sama seperti hewan untuk mengkonsumi tumbuhan dalam menjalankan siklus kehidupannya.

Monera –bakteri–, protista, dan fungi –jamur– sebagai makhluk biologis yang hidup pertama di bumi, ternyata memiliki peranan yang sama pentingnya seperti tumbuhan dan hewan untuk menjalankan peranannya dalam siklus kehidupan. Tanpa makhluk-makhluk ini mungkin planet bumi akan penuh dengan bangkai karena makhluk mungil ini memiliki peranan sebagai dekomposer atau pengubah senyawa organik menjadi anorganik –sangat berkebalikan dengan tumbuhan–.

Begitu teraturnya dunia, maka apakah sekali lagi kita tidak dapat merenungkan:

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 16)

Lalu bagaimana peranan makhluk ghaib Allah swt.? Mari kita diskusikan.

Malaikat, adalah makhluk Allah swt. yang paling taat. Tercipta dari sibakan cahaya yang begitu menyilaukan mata. Tubuhnya tersusun atas ‘kromosom-kromosom’ pekerti dan akal tanpa diberikan-Nya nafsu.

Jin, adalah makhluk hidup ghaib yang menjadi khalifah di bumi sebelum manusia. Tercipta dari percikan-percikan dan nyala api yang begitu panas terasa. Tubuhnya tersusun dari hawa nafsu yang begitu membara juga sedikit akal yang ada padanya.

Namun berbeda dengan makhluk Allah swt. yang satu ini. Ya. Manusia. Adalah makhluk yang begitu sempurna dari segala penciptaan. Setiap ‘gen dan kromosomnya’ terdiri dari aliran akal dan nafsu yang sama jumlahnya. Namun ketika terlahir, kelak kehidupan setiap makhluk yang bernama manusia itu akan bergantung pada kadar akal dan hawa nafsu yang fluktuatif jumlahnya.

Dalam firman-Nya Allah swt. berfirman:

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At-Tiin [95]:4)

Maka apakah kita setidaknya merenungkan:

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 18)

***


Sahabat, inilah setitik ilmu Allah swt. yang manerap dalam logika kita sebagai manusia. Sebagai kelebihan kita di antara makhluk Allah swt. lainnya.

Logika. Suatu hal yang sering kita andalkan secara belebihan dalam segala pemikiran. Namun, logika itu begitu lemah untuk mencapai suatu ilmu ketuhanan yang Allah swt. miliki. Dan secara ironisnya banyak manusia yang terjebak dengan kelebihannya sendiri ini dan terperosok pada suatu kondisi ‘keburukan’ yang Allah swt. ciptakan.

***

Sebelumnya tentang kita, antara Tuhan dan iblis yang menjadi perbincangan, tentang semua cerita dibalik drama kehidupan yang kita alami, itu adalah sebuah misteri yang mutlak yang harus kita kembalikan lagi ilmunya kepada Allah swt. tanpa banyak mengandalkan logika kita untuk setidaknya berpikir.

Ya, Azazil dan segala cerita drama yang kita simak sebelumnya benar secara dalil hingga sejarah nabi Adam as. diciptakan. Namun cerita mengenai skenario yang selama ini menjadi perdebatan, itu adalah sebuah dusta belaka! Dengan mengedepankan logika, setiap manusia dapat membuat cerita menurut versi kebaikannya masing-masing.

Ya, semua itu hanyalah bahan pembelajaran bagi kita untuk tidak begitu mencampuri urusan Yang Mahakuasa dalam segala misteri-Nya. Mengapa kita tidak mencoba untuk menjalankan peran kita sesuai dengan yang Allah swt. inginkan?

Bagi mereka yang terjebak alunan logika, mereka senantiasa mengikuti alur akalnya yang lemah dan sangat mudah sekali untuk Allah swt. patahkan. Mereka begitu percaya bahwa dibalik kehidupan Tuhan berkonspirasi dan melakukan suatu skenario. Hingga akhirnya tidak ada tempat bagi Tuhan dihati mereka dan menjadikan iblis sebagai sosok yang terlalu diagungkan secara berlebihan.

Atheisme –termasuk Darwinisme, Lenninisme dan Marxisme– juga Satanisme atau satanic, adalah ironi di antara logika manusia yang begitu lemah. Yang mereka percaya bahwa Tuhan itu tidak ada bahkan suatu sisi mengagungkan sisi keburukan dengan simbol-simbol iblis yang ada. Itu semua karena logika.

Sahabat, tidak ada yang tahu selain Allah swt. yang Mahatahu dibalik penciptaan Azazil yang awalnya begitu mulia hingga akhirnya terkutuk di dasar Neraka, juga maksud dari penciptaan manusia. Namun artikel sebelumnya ada, itu semua karena logika. Ya. Itu semua karena logika.

Sahabat, satu hal yang ingin dibagi adalah, terkadang logika kita tidak pernah akan sampai untuk mencermati segala keinginan Tuhan, Allah swt.

Apa yang hendak kita tuntut untuk semua ‘kesempurnaan hidup’ yang kita inginkan kepada Tuhan sehingga kita berani untuk menantang dalam setiap do’a-do’a kita kepada-Nya? Bukankah kita telah diberikan kesempatan hidup dan itu merupakan sebuah kenikmatan yang sangat besar?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 21)

Apa yang hendak kita lakukan lagi selain yang Allah swt. inginkan, hingga kita dengan beraninya berkata, “aku terjebak dalam kehidupan sebagai permainan yang Tuhan buat”, padahal kehidupan yang kita alami sangatlah berharga bahkan tak ternilai harganya?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 23)

Memang kehidupan hanyalah permainan. Mungkin sebuah ayat dari firman-Nya akan mengingatkan kita bahwa begitu lemahnya manusia dengan segala logika-logikanya:

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS Muhammad [47]: 36)

Namun jangan kita artikan bahwa ini merupakan permainan jahat. Tidaklah pantas bagi kita untuk menyandingkan kata jahat kepada Dia, Allah swt. yang Mahasuci. Jika sebegitu beraninya kita kepada-Nya maka apakah itu balasan yang layak kita lakukan kepada Allah swt. atas segala nikmat-Nya yang pernah kita rasakan. Sekali-kali tidak! Tuhan tidaklah hina! Tuhan itu ada!

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 25)

Dalam firman-Nya yang lain kepada kita. Allah swt dengan Mahabijaksana-Nya meningatkan kita:

Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (QS Al-Anbiyaa' [21]: 17)

Namun apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah segala kenikmatan yang kita alami, harta, nyawa, dan segala mimpi, impian, dan harapan baik kita adalah permainan buruk semata? Sekali-kali tidak! Tuhan tidaklah hina! Tuhan itu ada!

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 28)

Dalam mencermati kehidupan, kembali Allah swt. mengingatkan segalanya kepada manusia, sesosok makhluk pembangkang yang merasa dirinya lebih hebat dari penciptanya:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS Al-Hadiid [57]: 20)

Ya, kehidupan hanyalah permainan dan senda gurau. Tapi bukanlah permainan dan senda gurau belaka yang ada dibaliknya! Ada tujuan dimana kita sebagai makhluknya melakukan apa yang pencipta kita inginkan! Dan itulah keadilan! Kita tidak bisa menuntut segala yang kita inginkan sebagai keadilan! Sekali-kali tidak! Tuhan tidaklah hina! Tuhan itu ada!

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 33)

Dan dibalik segala ke-Maha-an Allah swt. yang Maha Merajai Hari Pembalasan, sungguhlah:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah [2]: 208)

Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu, (QS Al-An'aam [6]: 142)

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Yusuf [12]: 5)

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Israa' [17]: 53)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", (QS Yaasin [36]: 60)

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Az-Zukhruf [43]: 62)

Dan untuk segala kata yang terucap, janganlah tertipu akan tipu daya yang Azazil dan anak buah-anak buahnya lakukan. Mungkin dahulu dialah makhluk yang begitu mulia, namun itu cerita lama.

Dan untuk segala kata yang terucap, janganlah kita terlena akan nikmat logika sebagai senjata kita. Terlalu mengedepankan logika hingga akhirnya sombong dengan segala yang kita ketahui, bukanlah kunci untuk mendapatkan kebaikan yang kita idamkan.

Bahkan ingatkah Sahabat bagaimana Azazil bisa terjatuh dari gelar mulia hingga berada di dasar Neraka? Sombong, itulah jawabannya. Maka apakah Sahaat ingin mengulang kembali lembaran sejarah layaknya Azazil pada diri Sahabat?

Itulah logika. Kita hanya bisa memikirkan kebaikan yang relatif tanpa mengetahui kebenaran yang absolut. Coba buka mata, hati, dan telinga.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS Adz-Dzariyaat [51]: 56)


Sebuah dedikasi untuk seorang sahabat
Bumi Allah, 15 Februari 2001
Annas Ta’limuddin Maulana

Tuhan dan Iblis: Iblis yang Mulia dalam Permainan Kebaikan dan Keburukan


Didedikasikan untuk segenap sahabat yang setidaknya pernah mewarnai hidup dengan setiap goresan kuasnya masing-masing.

Bagi mereka yang merasa dirinya tuhan atau yang merasa dirinya dekat dengan Tuhan. Ini  hanya sekedar cuplikan dari refleksi dan prespektif pribadi yang mendasar. Hanya sedikit buah pemikiran tentangnya.

Iblis. Mungkin atau bahkan sangat akrab ditelinga Anda dan Anda lebih sering menafikan kata ‘iblis’ tersebut dengan istilah keburukan. Namun sebelum jauh kita mengenalnya, tahu apa dan pikiran mendasar apa yang tertanam pada diri Anda hingga Anda yakin bahwa zat yang kita sedang bicarakan merupakan zat yang jahat? Tahu apa akal Anda tentangnya hingga Anda berani berkata dialah sumber kejahatan? Tahu apa nalar Anda tentangnya hingga Anda mengkambing hitamkan segala kejahatan berada padanya.

Coba penulis tebak. Anda, hanya tahu cerita tentang iblis turun-termurun dari orang tua-orang tua Anda yang bahkan mereka pun mendapatkan cerita yang sama dari orang tua-orang tua mereka tanpa tahu apakah sumber cerita itu shahih atau tidak. Benar?

Atau Anda tertipu oleh seorang tua berjanggut putih panjang yang renta, yang ia hanya mendongengkan cerita-cerita maya yang larut dalam utopia dan mimpi-mimpinya belaka?

Penulis hanya bisa berkomentar, “Terlalu naif untuk mereka termasuk Anda yang berkata iblis hanyalah makhluk hina yang jauh dari kata mulia”. Percaya atau tidak. Tahukah Anda bahwa iblis merupakan makhluk yang sangat mulia. Jika dan hanya jika teori Anda akannya berbeda –dengan penulis–.

Mari kita buktikan satu per satu tentang kesahihan iblis sebagai sosok makhluk yang mulia dalam tinjauan logika (secara fisis, biologis, dan matematis) maupun ilmu agama.

Dalam semua agama, baik itu agama-agama Abrahamisme (Ibrahimiyah) –yakni Yahudi, Nasrani Kristen maupun Katholik, Islam Sunni, dan Islam Syi’ah– juga agama-agama mitologi –Hindu, Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, juga ‘isme-isme’ lainnya–, tidak pernah tidak lekat dengan kata-kata ‘iblis’, ‘setan’, ‘roh jahat’, dan sebagainya, sebagai pembanding sifat keburukan untuk sifat ke-Maha-an Tuhan. Singkatnya iblis adalah sosok yang ditekankan setiap agama manapun sebagai sosok yang berkebalikan dengan sosok Tuhan.

Tapi tahukah Anda bahwa paradigma ini hanyalah ‘permainan’ antara kedua sosok itu semata –iblis dan Tuhan–?

Bahkan fakta yang akan dipaparkan selanjutnya akan menceritakan bahwa terkadang iblis bisa sebegitu mulianya dihadapan Tuhan dan makhluk lain, juga Tuhan yang bisa sebegitu hinanya dihadapan semua umat-Nya. Kita mulai fakta ini dari sejarah sang iblis.

***

 
Iblis. Adalah sebutan yang sangat akrab di telinga kita. Mungkin begitu mendengarnya, terbayang sesosok ‘merah’, tinggi, tegap, dengan aksesori tanduk, ekor, yang juga lengkap dengan satu seri gigi taringnya dibenak Anda.

Ceritanya bermula ketika Tuhan ‘ada’ dan menciptakan alam semesta termasuk bumi yang sekarang kita pijaki.

Tahukah Anda, menurut sains, ketika awal penciptaannya bumi merupakan sebuah bola api  yang saat itu belum dapat dihuni oleh makhluk manapun dikarenakan kondisinya yang begitu panas.

Dan tahukah Anda bahwasanya iblis –atau jin–, makhluk yang sedang kita bicarakan merupakan mahluk yang terbuat dari api? Sebuah firman Tuhan mungkin dapat mengingatkan kita:

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr [15]: 27)

Hal ini sangat berhubungan dengan bumi yang kala awal penciptaannya masih diselimuti api. Sangat korelatif antara iblis (jin) dengan apa yang ada di bumi saat itu. Sehingga sangat jelas batapa jin yang terbuat dari api saat itu bisa menjadi makhluk yang hidup di bumi. Dan menjadi penguasa di dalamnya.

Dan Tuhan kembali mendongeng:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Kata-kata Tuhan tadi merupakan bukti nyata bahwa kata ‘jin’ lebih didahulukan daripada kata ‘manusia’ karena sebelum manusia hidup menjadi penguasa di bumi, jin telah terlebih dahulu ada sebagai penguasa pertama planet bumi. (Silakan baca literatur tafsir Al-Qur’an manapun tentang ayat di atas sebagai rujukan)

***

Telah jelas Tuhan bercerita. Lalu, sebenarnya siapakah iblis? Dari tadi kita hanya berbicara tentang makhluk bernama jin.

Tahukah Anda siapakah sebenarnya iblis? Tahukah Anda bahwasanya iblis hanyalah sebutan kepada sesosok makhluk dari golongan jin semata? Fakta itu terungkap. Nama asli dari sesosok iblis adalah... ‘Azazil’ –dalam literarur Islam– atau dalam literatur Nasrani kita akrab dengan nama ‘Lucifer’.

Azazil. Ya. Inilah makhluk yang dari awal kita perbincangkan. Dia adalah sesosok jin yang mulai hidup saat ratusan ribu tahun yang lalu, ketika bumi masih berada di awal penciptaan-Nya. Kala itu dikalangannya, Azazil sangatlah disegani. Kala itu dialah pemuka agama Tuhan. Dialah makhluk yang paling mulia di antara kaumnya, juga di mata Tuhan. Singkatnya, Azazil bisa kita sebut ‘nabi besar’ bagi kalangan jin manapun.

Diantara seluruh makhluk Tuhan, dialah makhluk yang paling sering memuja-Nya. Tak kenal peluh, siang dan malam dia habiskan waktunya untuk terus bersujud kepada Tuhan yang Maha Esa. Layaknya sosok Musa sang utusan Tuhan, Isa Al-Masih dan Muhammad rasulullah, dialah makhluk yang sangat Tuhan cintai di masanya.

Hingga suatu perbincangan ‘penduduk langit’ –malaikat dengan malaikat lain– saling berbisik mengenai keimanan seorang Azazil. Penduduk langit sangatlah iri dengan seluruh curahan jiwa Azazil untuk Tuhan, bagitu pun curahan Tuhan untuk Azazil. Hingga bisikan malaikat dibelakang Tuhan itu pun akhirnya ‘terdengar’ jua oleh-Nya. Malaikat yang merasa malu atas perbincangan itu pun akhirnya berkata:

“Wahai jiwaku yang berada dalam genggaman-Mu, tanpa menurunkan sifat ke-Maha-an-Mu hamba hanya ingin mencurahkan hati. Mengapa Engkau tidak menaikan hamba-Mu –Azazil– di bumi dan mempersilakannya ‘bersenda gurau’ juga saling memuja-Mu bersama kami di sini. Di langit-Mu. Sedangkan dialah makhluk yang paling sering bersujud kepada-Mu ketika siang, dan dialah makhluk yang paling sering memuja nama-Mu ketika malam.”

Begitu rendahnya para malaikat dihadapan Sang Mahakuasa dengan penuh harap pun iba. Dan Tuhan pun dengan sifat ke-Maha Pengasihan-Nya mengundang Azazil sebagai tamu kehormatan-Nya untuk tinggal selamanya di Surga, hidup bersama kepakan sayap malaikat dan bersenda gurau bersama mereka.

Siapa yang ingin menolak Surga sebagai jaminan hidup abadi selamanya? Bukankah demi itu Azazil rela berpeluh sujud hanya pada-Nya sedari pagi hingga malam? Maka Azazil pun dengan senyum lebarnya memenuhi undangan dengan hati yang ikut tersenyum pula.

Hingga hiduplah Azazil ­­–sesosok jin– diantara malaikat-malaikat Tuhan dengan damai. ‘Satu titik api’ di antara cahaya-cahaya malaikat di langit.

***

Lalu bagaimana dengan nasib bumi? Sebuah planet yang kini kehilangan makhluk tebaiknya, yakni Azazil?

Ternyata di sisi lain, di balik dialog antara malaikat yang meminta Azazil tinggal di langit dengan Tuhan yang mengizinkannya, terdapat rencana dan sebuah ide baru bagi Tuhan.

Kini, penciptaan bumi sudah semakin sempurna. Bumi kini bukanlah sebuah bola api. Siklus alaminya sudah membuat atmosfir bumi membaik dan temperaturnya menurun drastis. Api panas yang dulu membakar bumi menyebabkan kepulan asap hingga terbentuklah awan yang tak mampu menanggung beban molekul-molekul berat termasuk air untuk turun dan mendinginkan bumi. Hingga bumi kian stabil dengan iklimnya, sejak saat itu bumi mulai memungkinkan untuk dihidupi makhluk hidup-makhluk hidup biologis untuk hidup. Dimulai dengan hidupnya makhluk uniseluler seperti bakteri hingga diciptakan pulalah oleh Tuhan beragam hewan lain yang lebih kompleks, dari monera & protista (bakteri), fungi (jamur), tumbuhan, hingga hewan.

Kini Tuhan memiliki ‘mainan’ baru untuk Dia ‘mainkan’ setelah Dia menciptakan makhluk-makhluk barunya bertebaran di bumi.

***

Namun siapa tahu dengan rencana Tuhan? Atau mungkin Tuhan tidak begitu menyenangi ‘mainan baru-Nya’ hingga akhirnya Tuhan pun berkata kepada penduduk langit:

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Ternyata Tuhan ingin ‘memiliki’ mainan baru yang lebih mengasyikan dan ‘mengganti mainan-mainan lama-Nya’ –seperti jin dan makhluk biologis lainnya– dengan makhluk baru yang bernama... ‘Manusia’.

Sebelumnya Tuhan telah mengenalkan mainan baru-Nya kepada penduduk langit. Tapi entah apa yang direncanakan, Tuhan justru menceritakan kejelekan makhluk yang ingin Dia ciptakan itu, hingga para penduduk langit merasa kecewa dan bertanya:

"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Kepolosan penduduk langit akhirnya Tuhan jawab dengan sepotong kalimat, hingga membuat sebuah tanda tanya besar:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-Baqarah [2]: 30)

***

Entah apa yang Tuhan inginkan, bahkan penduduk langit hanya bisa terdiam dengan jawaban-Nya. Begitu pun Azazil, yang tidak tahu-menahu tentang rencana ini.

Semua penduduk langit lebih memilih bungkam ketika Tuhan sedang berkreasi dengan ke-Maha-an-Nya. Begitu pun rencana Tuhan, toh malaikat dan Azazil pun sama-sama ciptaan-Nya. Para penduduk langit pun telah lama mengecap indahnya Surga sebagai tempat terindah di alam semesta, jadi untuk apa mereka meminta ‘hati’ setelah Tuhan memberikan kepada mereka ‘jantung’, gumam mereka.

Penduduk langit masih dalam keadaan diam tanpa kata. Dan Tuhan pun mulai bercerita kembali:

Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS Ali Imran [3]: 59)

Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS Al-Hijr [15]: 26)

Dengan bangga Tuhan memperkenalkan Adam –manusia pertama yang Dia ciptakan– kepada seluruh penduduk langit.

Semua tercengang, Mikail, Israfil, bahkan Jibril –­sang penghulu malaikat–, juga Azazil. Semua diam. Hening. Hingga terdengarlah suara yang memecahkan keheningan ketika satu diantara penduduk langit meminta kepada Tuhan untuk menguji kehebatan Adam.

Kini Tuhan sedang menyiapkan sebuah sayembara antara Adam melawan penduduk langit. Diciptakanlah oleh-Nya benda-benda. Dan soal ujiannya adalah: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”, Tuhan memantang.

Semua penduduk langit diam terpana sesaat. Tak lama, mereka mulai kebingungan dengan pertanyaan Tuhan, karena benda yang menjadi soal tidak pernah dilihat sebelumnya. Adam pun diam. Dibalik rencana, Tuhan pun berkonspirasi dengan Adam, dan itu telah diceritakan sebuah kitab suci bernama Al-Qur’an:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (QS Al-Baqarah [2]: 31)

Sekali lagi Tuhan ‘membentak’ penduduk langit untuk menebak nama benda-benda yang menyadi pertanyaan itu. Pertanyaan itu sekali lagi memecahkan keheningan, hingga,

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Baqarah [2]: 32)

Tidak ada yang dapat melawan konspirasi Tuhan dengan Adam.

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS Al-Baqarah [2]: 33)

Sekali lagi, tidak ada yang dapat menghalangi konspirasi Tuhan. Dan Adam pun terdiam setelah menjawab pertanyaan tantangan dari Tuhan dan memenankan sayembara. Mulai dari sinilah cerita yang sesungguhnya dimulai. Konflik mulai terasa. Satu hal aneh yang tidak pernah terbayangkan oleh penduduk langit akhirnya menjadi kenyataan.

Tuhan tiba-tiba memerintahkan seluruh penduduk langit untuk suatu hal yang aneh:

"Sujudlah kamu kepada Adam," (QS Al-Baqarah [2]: 34)

Ketika itu semua makhluk yang memiliki hati pastri terhenyak. Bagaikan peluru panas yang dengan dahsyatnya tertanam setelah sepersekian detik sebelumnya terlontar dari sebuah senapan. Penduduk langit tidaklah sekuat Tuhan atau lebih untuk melawan-Nya.

maka sujudlah mereka (QS Al-Baqarah [2]: 34)

Bagaikan angin kencang yang meniup ladang gandum, semua tunduk dengan sangat teratur. Langit seketika itu ‘datar’ oleh sujudnya para Malaikat. Namun. Seenggok hati masih bergejolak. Bingung mencari kebenaran nyata diantara ‘mimpi-mimpi’ aneh yang bagaikan kenyataan.

maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah [2]: 34)

Diantara datarnya langit, terdapat satu makhluk yang masih berdiri tegak tak tertunduk.

Takabur.

Sombong.

Merasa dirinya lebih di antara yang lain.

Inilah cerita klasik yang ‘kita’ imani. Bahwasanya dialah Azazil. Dialah dahulu yang Tuhan cintai, dialah yang selalu sujud untuk-Nya dari pagi hingga malam, dan hanya karena itulah, dialah Azazil yang kini ‘bernama’ Iblis untuk kita laknat.

Itulah cerita klasik yang ‘kita’ imani. Saat-saat itulah yang menjadi hari yang paling bersejarah bagi seluruh makhuk Tuhan. Hari yang paling bersejarah di seluruh alam semesta, dari awal hingga akhir penciptaanya kelak.

Itulah awal dari apa yang kita sebut ‘kehidupan’. Dengan segala penafsiran karena ketidak patuhan seorang makhluk papa yang tidak berdaya, yang dia hanya memohon harap hal yang terbaik dari Tuhan-Nya, kini dia dicaci, dimaki, dinistakan. Dan semua setuju akannya tanpa Tuhan membela dan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.

***

Cerita di atas adalah alasan mengapa hingga kini kita mencaci iblis karena menjadi makhluk yang tidak patuh kepada Tuhan. Dan mulailah kita mengenal kata setan yang tertuju padanya. Dan mulailah kita mengenal suatu makhluk yang pantas kita tuntut karena dialah sumber keburukan atasnya.

Tapi tahukah Anda cerita yang sebenarnya?

Inginkah Anda mengetahui cerita yang sesungguhnya?

Ini hanya cerita yang tersimpan sekian lama, yang sedari dulu hanya diketahui oleh orang-orang yang tahu karena-Nya yang Mahatahu.

Tahukah Anda alasan mengapa Azazil –­iblis–­ tidak tunduk kepada Tuhan. Inilah serangkaian ulasannya.

***

Masih terasa ketika itu suasana yang mencekam ketika firman Tuhan menggema di sekeliling langit untuk memerintahkan para pendukuk langit untuk sujud kepada Adam sang manusia pertama.

Hingga semua berlutut takut akan-Nya dan sujud seketika.

Namun Azazil, sesosok hamba Tuhan yang paling bersahaja dan mencintai ibadah yang kini menjadi kegemarannya mulai bertanya-tanya. Dia mulai teringatkan oleh kata-kata Tuhan:

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (QS Ar Ra’d [13]: 15)

Azazil mulai berpikir. Apakah ini merupakan suatu ujian baginya? Karena dia pernah tuhan perintahkan untuk tidak sujud kepada selain tuhan. Itulah firman-Nya, maka apa jadinya jika sesosok Azazil sujud kepada makhluk, selain kepada tuhan? Azazil tahu bahwa ini hanyalah ujian keimanan semata baginya. Maka dari itulah, dialah Azazil, satu-satunya penduduk langit yang tidak sujud kepada Adam, dan dialah Azazil, yang tidak pernah sujud selain kepada tuhan.

Tuhan terpana. Adam diam. Malaikat-malaikat tetap bersujud. Dan Azazil pun gemetar. Ingatkah Anda ketika tuhan berkonspirasi dengan Adam untuk memenangkan sayembara? Kini setelah terpana dengan ketegaran iman seorang Azazil, Tuhan pun mulai berkonspirasi dengan Azazil untuk memainkan sebuah permainan yang kita sebut kehidupan.

***

Dibalik drama, tuhan pun memanggil Azazil dan mulai menceritakan rencana permainannya. Ternyata hal yang diungkapkan tuhan adalah untuk membuat suatu permainan bagi seluruh manusia yang kelak akan tuhan ciptakan dari keturunan-keturunan Adam.

Permainan ini bernama ‘Kebaikan dan Keburukan’. Peraturannya sangat mudah, tuhan akan menciptakan dua kondisi dalam permainan. Kondisi pertama tuhan sebut ‘kebaikan’, di sisi inilah tuhan berperan untuk memerikan imbalan berupa kebaikan bagi siapa saja yang ada dalam kondisi ini, dengan imbalan terbesarnya berupa Surga. Kondisi kedua tuhan sebut ‘keburukan’, di sini tuhan memerlukan seseorang untuk mengisi permainan untuk menggoda setiap manusia yang hendak menuju kondisi ‘kebaikan’ untuk bisa masuk dalam kondisi ‘keburukan’ karena dalam kondisi keburukan, tuhan tidak akan memberikan imbalan, sebaliknya siksaan, dengan siksaan terberatnya erupa tempat yang bernama Neraka.

Tuhan memerlukan seseorang untuk turut ikut andil dalam permainan ini, dan dia memilih Azazil sebagai pembantu penyelenggaranya. Tuhan mulai menceritakan kronologis dan hal yang harus Azazil lakukan sebagai bagian dari penyelenggara permainan. Namun tokoh Azazil kelak akan sangat berlawanan dengan tokoh tuhan dan Azazil sangat tahu konsekuensinya.

Azazil pun setuju untuk memainkannya. Hingga skenario pun mulai dibentuk dalam konspirasi ini. Kelak seakan-akan tuhan akan sangat tak acuh kepada Azazil dalam setiap tidak-tanduknya, namun Azazil hanyalah sekedar memainkan peranannya.

Hingga setelah rencana selesai, muncullah kembali tuhan dan Azazil dibalik tirai drama dan dimulailah skenario konspirasi. Tuhan mulai mengecilkan peranan Azazil dengan sekan-akan mengutuknya. Dan Azazil pun mulai bertindak seakan makhluk yang terkutuk.

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (QS Al-A’raaf [7]: 12-13)

Gemparlah suasana langit dengan suara yang bagitu memekakan telinga. Namun,

Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya". (QS Al-A’raaf [7]: 14-18)

Kini rencana meulai berjalan lancar, ketika Azazil diberikan usia yang abadi untuk bisa menggawangi permainan ini untuk selamanya menggoda manusia. Dengan bekal usia yang abadi inilah Azazil dapat menjalankan ‘perannya’ dengan mudah. Sementara di sisi Surga yang lain tuhan pun menjalankan perannya.

(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim". (QS Al-A’raaf [7]: 19)

Skenario menceritakan kepada kita bahwa tuhan memiliki rencana untuk menurunkan Adam dan istrinya –­Hawa dalam literatur Islam atau Eve dalam literatur Nasrani–­ dari Surga. Anda ingat ayat ini?

 Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Sudah jelas bahwasanya tuhan telah berencana untuk tidak membuat Adam berleha-leha di Surga, namun justru memaksanya hengkang dari ‘dunia yang damai’ itu. Maka dari itu konspirasi bersama Azazil benar-benar harus dijalankan secara mulus. Maka Azazil dalam nuansa ‘kutukannya’ mulai bertugas dalam topeng sesosok setan. Tugas Azazil kali ini adalah untuk membujuk Adam dan Hawa mendekati pohon yang tuhan larang dan memakan buahnya.

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)". (QS Al-A’raaf [7]: 20)

Seakan-akan setan (Azazil) menggoda Adam.

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua", maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS Al-A’raaf [7]: 21-22)

Tuhan murka. Azazil merasa tugasnya berjalan dengan baik. Adam dan Hawa merasa sangat bersalah.

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS Al-A’raaf [7]: 23-25)

Dan turunlah Adam juga istrinya dari Surga menuju bumi sebagai dunia yang nyata. Menandakan permainan sedang dimulai. Ya, permainan ‘Kebaikan dan Keburukan’ yang sampai saat ini masih dimainkan oleh manusia. Dan bagi umatnya yang sedang dalam berada dalam permainan, tuhan mengingatkan:

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS Al-A’raaf [7]: 27)


***

Begitu hinanya iblis di mata manusia atas tindak-tanduknya kepada mereka yang terjebak dalam rencananya. Namun percaya atau tidak, begitu dekatnya tokoh tuhan dan iblis sehingga mereka berdua begitu ‘asyiknya’ menjadi juri dalam permainan ini. Kedekatan antara tuhan dan iblis itulah yang membuat dia begitu mulia, bahkan di antara malaikat-malaikat sekali pun. Dialah satu-satunya makhluk yang begitu dekatnya dengan tuhannya. Dan sadar atau tidak, seperti apapun kita mengutuk iblis, iblis tetap tabah dalam menjalankan tugasnya, demi tuhan semata.

Coba renungkan.

Note:

Mohon untuk tidak membaca artikel ini setengah-setengah. Silakan Sahabat baca artikel keduanya, karena dikhawatrikan terjadi kesalah pahaman. Syukran.


Kolong langit, 13 Februari 2011 M
Annas Ta’limuddin Maulana

Sabtu, 12 Februari 2011

Skenario Hari Akhir



Malaikat: “Kini giliran hamba-Mu yang bernama ‘Fulan’, Tuhanku.”

Tuhan: “Bawa ia kehadapan-Ku! Lalu ceritakan pulalah sebagaimana yang telah diceritakan sebelumnya kepadamu.”

Malaikat: “Inilah hamba-Mu ini ya Rabb. Ketahuilah Al-‘Aliim, dia adalah salah satu hamba-Mu yang menerima ‘rapor’ akhiratnya dengan tangan kiri sesuai dengan apa yang telah ia lakukan selama ini untuk-Mu dari sekian banyak anak Adam yang menerimanya pula.”

***


Terbayang nanti jika suatu masa itu datang menghampiri. Entah apa yang harus dilakukan ketika pengadilan itu benar-benar terjadi. Memikirkan terkadang, “Ya Rabb jangan sampai itu terjadi” Tapi mau dikata apa? Hari kelak dimana masa itu datang memang akan benar-benar terjadi.

Terbayang nanti jika suatu masa itu datang menghampiri. Aku malu pada-Mu dan aku benar-benar takut kepada-Mu. Tapi, aku merindukan-Mu. Aku takut jika Engkau bertanya, tapi aku rindu jika Engkau datang menghampiri.

Ketika Yaumul Hisab itu datang dan terjadi. Apa yang kelak terjadi di sana lalu terbayang atas semua pertanggungjawabanku selama ini untuk-Mu.

***

Tuhan: “Inikah hamba-Ku ini sang ahli Neraka itu, karena ia telah menyia-nyiakan akalnya saat hidup di dunia, menyakiti-Ku di dunia bahkan mencampakan-Ku di dunia?”
Malaikat: “Iya, Rabb. Inilah hamba-Mu yang hina lagi nista itu. Engkau akan jatukan ke Neraka manakah hamba-Mu ini wahai Rabb?”
Tuhan: “Akulah Sang Maha Mengetahi juga Maha Kuasa atas segalanya! Bawa ia lebih dekat kepada-Ku! Akan kutanyakan beberapa hal yang tidak Aku sukai darinya!”
Malaikat: “Inilah ia, Rabb.”
Tuhan: “Apa pembelaanmu kepada-Ku yang telah engkau sakiti bahkan engkau campakan?”

Fulan: “...”

Tuhan: “Apa yang ingin kau belakan? Inginkah engkau kini membuang ‘waktu-Ku’? Masih banyak manusia dan jin yang harus Ku hisab!”

Fulan: “...”

Tuhan: “Dulu kau mencampakan-Ku! Apakah kini kau ingin membuat-Ku marah kembali?

Fulan: “Maaf, Rabb.”

Tuhan: “Aku meminta sepotong kata pembelaan, bukan kata maaf! Maka setujukah engkau Aku masukan ke kerak Jahannam? Baik, mungkin kau sulit untuk berucap pada Zat Mulia-Ku ini, maka akan kutanyakan beberapa hal kepadamu atas apa yang telah kau lakukan di dunia. Jawab atau Aku-lah Maha Kuasa!”


Tuhan: “Aku Maha Mengetahui, maka akulah yang Mengetahi Segalanya. Jawab! Engkaukah seorang muslim?”

Fulan: “Iya, Ar-Rahmaan.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang terdidik?”

Fulan: “Iya, Ar-Rahiim.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang kau akui sebagai seorang pementor?”

Fulan: “Iya, Al-Malik.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang kau akui sebagai seorang aktivis dakwah!?”

Fulan: “Iya, Al-Qudus.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang kau yakini memiliki binaan-binaan, memiliki ladang dakwah yang banyak, selalu disibukan dengan aktivitas dakwah, mementor, mengumbar untaian kata hikmah penuh makna, dan atau selalu menasihati orang lain dalam kebaikan? Itukah engkau yang kau yakini kalau itu adalah upayamu di dunia?

Fulan: “Iya, Tuhan.”

Tuhan: ”Engkaukah seorang yang kau yakini beriman, menegakan shalat, menunaikan sedekah, berucap baik, berprilaku baik, mengajak orang pada kebaikan, mengajak orang pada kesabaran?“

Fulan: “Iya, Tuhan.”

Tuhan: “Engkaukah seorang yang kau yakini selalu ber-tasbih, ber-tahmid, ber-tahlil, ber-takbir, beristigfar?”

Fulan: “Iya, Tuhan.”

Tuhan: “Itukah engkau yang kau yakini?”

Fulan: “Jika Engkau mengizinkan, Rabb.”

Tuhan:“Apakah itu? Engkaukah itu? Engkaukah seorang muslim hingga engkau lupa menyembah-Ku karena orientasimu adalah pujian manusia? Engkau riya! Engkau sum’ah!”

Tuhan: “Mana buktimu dimana engkau berkata demikian tapi engkau tak menyembah-Ku? Dari shalatmu? Sedekahmu? Amalan shalihmu?

Tuhan: “Shalatmu? Shalatmu tidak khusyuk! Kau banyak memikirkan segala keperluanmu setelah shalat, masalahmu kedepan dan pikiran-pikiran kotormu! Tidak tepat waktu! Bila menjadi imam kau lebih ingin terlihat berwibawa dan beriman! Merasa shalatmu itu adalah penolongmu, padahal kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya!

Tuhan: “Sedekahmu? Hah, mana mungkin! Engkau pelit! Sulit mengulurkan tanganmu padahal hanya untuk saling berbagi! Rakus dengan segala hartamu yang padahal itu hanya sebagian keciiiiil dari nikmatku! Engkau bukan Sulaiman yang memiliki harta yang berlimpah! Engkau bukan Daud yang memiliki kerajaan yang makmur! Dan engkau pun bukan Abdurahman bin Auf yang jika ia membalikan batu niscaya emas kan ia temukan! Tapi engkau tak sedermawan mereka! Sadarlah! Hartamu kemarin pun sekarang tak kau bawa kehadapan-Ku kan?

Tuhan: “Apakah itu? Engkaukah itu? Engkaukah seorang yang terdidik, pementor, atau aktivis dakwah? Dusta! Ilmumu tak berguna! Tak kau lakukan hanya umbaran kata! Kau mementor demi terlihat beriman, terlihat berilmu di depan binaanmu! Engkau aktivis dakwah demi terlihat mulia, terlihat baik di mata orang! Engkau riya! Engkau sum’ah!”

Tuhan: “Mana buktimu dimana engkau berkata demikian padahal kau bukan orang yang berilmu? Engkau hanya pintar mengumbar untaian kata munafik untuk menutupi kebusukan dirimu! Apakah kau mengerjakan apa yang kau nasihatkan? Yang kau berikan dan yang kau tuliskan? Tahu Aku kau muka dua dan Aku tidak perlu semua itu!”

Tuhan: “Apakah itu? Engkaukah itu? Engkau yang selalu berdzikir? Mana buktimu mensucikan-Ku? Memuji-Ku? Mengesakan-Ku? Membesarkan-Ku? Atau meminta ampunan kepada-Ku? Dusta! Pembohong! Engkau riya! Engkau sum’ah!”

Fulan: “...”

Tuhan: “Cukup melihat muka hinamu! Pergilah kau dari hadapan-Ku!”

Fulan: ”...”

Tuhan: “Cukup! Wahai ‘para makhluk-Ku yang taat’! bawalah manusia hina ini ke dasar dari dasarnya Jahannam dan segeralah bawa ahli neraka ini jauh dari hadapan-Ku yang mulia!”
Malaikat: “Perintah-Mu, ya Rabb.”

Fulan: “Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Aku mohon taubat atas segala semua kesalahanku pada-Mu Rabb! Engkaulah yang ku cinta dan itulah yang seharusnya ku lakukan sedari dulu! Laillahaila anta, subhanaka inni kuntum minadzalimiin...! Ya Rabb, ampunilah hamba, ciptakanlah dunia kembali niscaya hamba kan selalu beribadah kepada-Mu siang dan malam! Atau aku hanya menyesal telah Engkau ciptakan! Aku menyesal diciptakan dan ku berharap aku tak diciptakan, ya Rabb...!”

Tuhan: “Kalla! Sekali-kali tidak atas segala perbuatanmu! Itulah pengadilanmu maka apakah Aku menyesal menciptakanmu?”

Fulan: “Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!”

Azazil  (Iblis): “Cukup! Bawalah anak Adam itu kehadapanku dan jauhkanlah ia dari hadapan Allah!”

***

Allahuakbar! Laillahaila anta, subhanaka inni kuntum minadz dzalimiin! Illa hilastullil firdausi ‘ala, wa ala ali naari jahiim, fa habbal lil taubatan wagfir junub, fa inaka ala ghafirul dzumbil adziim.

Allah Maha Besar! Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya hamba termasuk orang-orang yang dzalim! Ya Rabb, hamba-Mu ini bukan ahli Surga, namun tak sanggup pula menerima siksa Neraka, maka ampunilah dosa hamba, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Dosa Besar.


Bumi Allah, 21 Dzulhijjah 1429 H – 20 Agustus 2009 M
Annas Ta'limuddin Maulana

Sabtu, 05 Februari 2011

Perspektif Islam: Kalaulah Sama Mengapa Berbeda?

Pernah ga Sahabat bayangin betapa sedihnya waktu kita baru mulai untuk membuat sebuah account di ‘situs jejaring sosial’ –sebut saja: FB (Facebook)–? Disana terdapat beberapa uraian diri untuk diisi. Nama lengkap, tempat tanggal lahir, kegiatan, pekerjaan / sekolah dan sebagainya. Termasuk agama...

Seperti biasa, semua terisi dengan lancarnya seperti membuat account-account di situs lain. Namun serentak hati terhenyak... saat mengisi kolom ‘agama’...

Seperti biasa. Dengan mantap tangan ini mengetik:

“I – S – L – ...”

Lalu... munculah pilihan auto-typing (sebuah alat bantu web dalam mempermudah para user) dengan pilihan-pilihannya:

1. Islam
2. Islam Sunni
3. Islam Syi’ah
4. Islam Sufi

Terdiam, merenungi apa yang baru saja terlihat... Berniat dengan mantap untuk mengatakan pada dunia maya bahwa: “Saya seorang ‘Islam’!”. Tapi ternyata munculah pilihan-pilihan itu...

***



Atau pernah ga Sahabat bayangin betapa sedihnya waktu kita membuka ‘situs enslikopedi dunia maya’ –sebut saja Wikipedia–? ‘Semua’ ilmu tercantum dalam format data berupa HTML dalam bentuk data bacaan dunia maya di situs tersebut. Termasuk didalamnya tentang masalah keagamaan...

Semua berjalan seperti biasa memang waktu Sahabat mencari ilmu tentang agama, seperti di search engine (mesin pencari) lainnya.

Tapi kembali... ketika jari ini salah mengetik tentang apa yang ingin dicari –Islam–, contoh: dalam search engine tersebut seharusnnya jari ini mengetik ‘Islam’ tapi malah menulis ‘Islma’. Halaman situs itu pun langsung membuka lembaran auto-correct-nya. Tercantum disana:

Do you mean? (apakah yang Anda maksud adalah):

1. Islam
2. Islam Sunni
3. Islam Syi’ah

Tersentak kembali hati ini. Pernahkah Sahabat begini?

***

Mungkin terkadang feeling ini ‘cuek bebek’ akan semua uraian diatas. Mungkin Sahabat pernah mengalami kejadian diatas. Tapi... apakah kita –setidaknya– pernah memikirkan betapa terbelahnya ummat ini?

Belum lagi... ummat ini terbelah dalam beberapa jamaah... –You-Know-It-And-I-Can’t-Tell

***

Sudah menjadi rahasia umum dan Sahabat pun pasti tahukan? Dimulai dari seorang pedagang sukses intelektual muda yang apa adanya dan berakhlak mulia yang ingin mencari ‘keeksistensian’ dunia yang sesungguhnya dengan berkhalwat di malam gulita di sebuah gua, risalah ini mulai terpancar ke seluruh alam semesta. Yap! Ad-Dien ul Lah, Ar-Ridha ud Dien, Al-Islam, An-Nuur un Naas, Ar-Rahmah Al-‘Alamiin... oleh beliau, Rasulullah, Nabiyullah, Al-Akhirul lil Anbiyaa, Muhammad, Abu Az-Zahra, Al-Amin, ibn Abdullah ibn Syaibah Al-Abdul Muthalib ibn Amr Al-Hasyim ibn Abdi Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’b ibn Luay ibn Ghalib ibn Fihr Al-Quraisy (Abu Bani Quraisy), Ar-Rahmah Al-‘Alamiin, Rahimullah, Shallaullah ‘Alaihi wa Salam.

Sudah menjadi rahasia umum dan Sahabat pun pasti tahukan? Beliau saw. diberi risalah dengan petunjuk dari wahyu-Nya Ar-Rabb Al-‘Alamiin, Al-Illah Al-‘Alamiin, Allah, Ar-Rahman Ar-Rahiim Al-Asmaa Al-Husn, Jalla Jallallah, Azza’ wa Jalla, Subhanahu wa Ta’ala melalui perantara malaikat-Nya Ar-Ruh Al-Quds, Jibril, Rahimullah, ‘Alaihi Salam. yang keseluruhannya termaktub dalam sebuah kitab suci Al-Kitab Al-Quds, Al-Furqaan, An-Nuur, Al-Khabaar, Al-Qur’an, Al-Kariim, Rahimullah.

Yap! Berawal dari seorang manusia inilah ‘rahmat’ ini terpancar ke seluruh alam. Berawal dari seorang yatim-piatu, yang hanya diasuh oleh pamannya yang apa adanya inilah ‘rahmat’ ini terpancar ke seluruh alam. Berawal dari seorang dari suku badui di pedalaman padang pasir arab yang terisolir dari dunia inilah ‘rahmat’ ini terpancar ke seluruh alam.

Hingga terciptalah sebuah kekhilafahan negara kota yang ber’pancasila’kan Islam pertama setelah dilaksanakannya hijrah, ‘Madinah Al-Munawarah’. Kemudian terciptalah kerajaan yang lebih meluas ke seluruh jazirah Arab, ‘Al-Islam – Saracen’. Kemudian kerajan suci ini dapat mengalahkan dua negara adikuasa lainnya di dunia saat itu, ‘Ar-Ruum – Byzantium’, dan ‘Al-Majusy – Persia’. Hingga terbentanglah kerajaan yang kedaulatannya dipegang oleh satu khalifah.

Kerajaan terbesar di dunia yang pernah dicatat dalam sejarah. Kerajaan tersuci di dunia. Terbentang dari Cordoba di Andalusia (Spanyol) hingga Gujarat di India. Terbentang dari Eropa Barat ke Afrika Utara hingga Asia Timur. Semua dalam satu naungan kehilafahan dan berawal dari seorang muda apa adanya. ‘Islam, Empire of Faith’.

***

Maka pernahkah kita –setidaknya– berpikir dari uraian diatas?! Mengapa ummat ini bagaikan telah terbelah?! Apakah beliau saw. mengajarkan Islam menjadi beberapa golongan?! Apakah Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menjadi beberapa golongan?!

Maka pernahkah kita –setidaknya– berpikir dari uraian diatas?! Memangnya di zaman beliau saw. Islam itu terdiri dari beberapa golongan?! Apakah Allah meridhai ummat-Nya yang katanya ‘satu’ tapi jalannya berbeda?!

Maka pernahkah kita –setidaknya– renungkan?! Lantas mana yang Allah ridhai, yang ‘A’ atau yang ‘B’?! Lantas mana yang benar?! Lantas mana yang harus saya pilih?! Lantas apa bedanya ‘kita’ dengan ‘mereka’ Ahlul Kitab?! –kita tahu bahwasanya salah satu ahli kitab (afwan sebut saja ‘Kristen bukan Nasrani’) terpecah ‘aqidah’nya menjadi beberapa sekte (golongan)–

***

Memang tak perlu digembar-gemborkan tentang masalah perbedaan mahzab, golongan, atau jamaah. Karena memang itu adalah khazanah dakwah. Tapi... mulailah hati ini bergejolak ketika perang kata –debat– terbuka maupun tertutup antar jamaah dilaksanakan atau dilakukan. Baik itu dalam debat tatap muka ataupun sekedar lewat buku yang berisi hujjah saling bertentangan.

Jamaah satu mencaci jamaah yang lain, yang dimaki pun tak ingin kalah untuk mencaci. Apakah itu yang diajarkan beliau saw.?! Yang satu mensesatkan yang lain, yang disesatkan ga mau ngalah buat dikata sesat. Apakah ini yang diajarkan beliau saw.?! Yang satu menkafirkan yang lain, yang dikafirkan ga mau ngalah buat dikata kafir. Apakah itu yang diajarkan beliau saw.?!

***

Bisikan setan pun terdengar: “Udahlah, kepalang tanggung, lagian bentar lagi juga kiamat udah mau dateng, ngapain juga ummat ini dibenerin. Ingat sabda rasul, “Kelak di akhir zaman, ummatku akan terpecah kepada beberapa golongan, padahal golongan-golongan itu tidak akan memberikan manfaat sama sekali”, dan dalam riwayat lain, “Kelak di akhir zaman, ummatku akan terpecah kepada 73 golongan, padahal golongan-golongan itu tidak akan memberikan manfaat sama sekali”.” Naudzubillahimindzalik.

***

Alhamdulillah... kali ini risalah Islam sudah mulai memancarkan cahayanya kembali. Kini kebangkitan Islam mulai terasa lagi. Dilihat dari banyaknya sekarang para ikhwan yang berjenggot dan memakai baju koko, para akhwat yang memakai jilbab, nasyid yang mulai fenomenal, serta Lembaga-Lembaga Dakwah Sekolah (LDS) serta Lembaga-Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang mulai menjamur akhir-akhir ini.

Sekarangkan memang banyak organisasi seperti: Remaja Masjid, Keluarga Remaja Masjid, Keluarga Muslim, Kreativitas Anak Muslim, Dewan Keluarga Masjid, serta Ikatan Muslim Kampus.

Namun sayang... semua itu tidak dikoordinir dan tidak dinaungi oleh satu lembaga resmi –paling-paling dinaungi ‘jamaah’ masing-masing–, jadi nampaknya seakan-akan berlainan padahal tujuannya sama: “Menyebarkan risalah Islam”.

Sekarangkan memang banyak organisasi seperti: Remaja Masjid, Keluarga Remaja Masjid, Keluarga Muslim, Kreativitas Anak Muslim, Dewan Keluarga Masjid, serta Ikatan Muslim Kampus.

Tapi... semua itu hanya terlihat bergerak masing-masing saja sehingga hanya terlihat sebagai ‘keeksklusifismean’.

***

Diri ini terkadang merindukan saat zaman Islam ini benar-benar dinaungi oleh satu kekhilafahan itu. Kerajaan yang terbentang dari Andalusia hingga India . Dari Eropa, Afrika hingga Asia. Kerajaan dalam satu khilafah.

Maka timbul suatu wacana, “Mengapa kita tidak memiliki kehilafahan –lagi–? Padahal –sebut saja– Ahlul Kitab saja masih punya sistem ‘kehilafahannya’ masing-masing. –sebut saja– Yahudi dengan Rabbi-nya di ‘bumi jihad’ Israel (baca: Palestina) dan –sebut saja– Kristen –Ingat! Bukan Nasrani– dengan Paus-nya di Vatikan. Mereka punya, mengapa kita tidak? Dahulu mungkin iya, tapi sekarang mengapa kita tidak membentuknya lagi?”

Sontak terdengar pula jawabannya yang singkat serta padat, “Gimana mau punya sistem satu kehilafahan kalau ummatnya aja udah jadi ‘macem-macem’ kaya gini”.

***

Kembali lagi ke Lembaga Dakwah Sekolah/Kampus (LDS/K). Maka kalau begitu, jika tujuannya sama mengapa harus beda. Mulailah dari tingkatan terkecil. Tingkatan organisasi aktivis. Untuk menjadi satu dan memperkuat satu sama lain, hingga akhirnya terbentuklah kehilafahan yang tak sekedar utopia.
Maka, “Kalaulah Sama Mengapa Berbeda?

Catatan: Sahabat akan mulai merasa dan sedih memikirkan ummat yang terpecah ini dikala Sahabat telah membaca beberapa buku karya syaikh-syaikh yang saling menghujjah antar jamaah yang terkadang merasa paling benar sendiri. Perbedaan itu memang khazanah, tapi itu menyakitkan. Oleh karena itu, hanya mengajak, dimulaii dari hal yang kecil, mengapa kita tidak ‘bersatu’?


Ditemani senandung-senandung Islami di MQFM serta diselingi tontonan di MQTV
Bumi Allah, 4 Syawal 1430 H – 23 September 2009 M
Annas Ta'limuddin Maulana