Selasa, 05 Juli 2011

Perspektif Islam: Banyak Jamaah, Berbeda Cara Berjuang, Namun dalam Satu Naungan

Siapa yang tidak tahu kalau jamaah-jamaah Islam begitu menjamur di muka Bumi. Luar biasanya Islam, bahwa khazanah dakwah ini begitu plural dan umum. Ketika orang-orang mempermasalahkan jamaah masing-masing diantara mereka, seperti perkataan, "Eh, kamu dari jamaah mana?" atau, "Eh, si Fulan sih dari jamaah 'itu', jangan diikutin!", dsb., justru perbedaan khazanah dakwah ini janganlah dijadikan permasalahan.

Terlebih lagi di Indonesia. Negeri yang memiliki populasi muslim terbanyak di dunia ini begitu plural dengan berbagai macam jamaah. Dan ironisnya, terkadang hal itu menjadi permasalahan. Padahal Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa perbedaan khazanah dakwah adalah merupakan suatu nikmat dan berkah. Tidak perlu mempermasalahkan suatu jamaah jika aqidah jamaah tersebut tidak menyimpang dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur'an. Tidak perlu mempermasalahkan suatu jamaah jika Allah adalah satu-satunya tuhan bagi mereka, Rasulullah Muhammad saw. adalah rasul yang diikuti dan diimami, Al-Qur'an sebagai pedoman hidup utama, sama-sama mengimani takdir dan hari akhir.

Yap, Indonesia dengan begitu banyaknya jamaah Islam seharusnya berkembang menjadi negara Islam yang begitu kokoh jika seluruh jamaah tahu pentingnya bersatu dalam satu naungan. Bagaimana tidak, jamaah nasional maupun internasional begitu mewarnai ranah dakwah dan seharusnya itu sangatlah berpengaruh. Namun, rasanya nikmat dakwah ini tidak dapat dirasakan oleh setiap individu di negeri ini. Mungkin karena jamaah-jamaah Islam tidak begitu mementingkan persatuan dan hanya sibuk mengurusi jamaahnya sendiri tanpa ingin berafilliasi atau bekerja sama dalam nikmatnya perjuangan dakwah.


Sebut saja jamaah nasional seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, Nahdatul Ulama dsb., juga jamaah internasional seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Tabligh, Salafiyah, dsb., begitu membuat Indonesia berwarna dengan cara dan jalan dakwah masing-masing jamaah. Dan seharusnya jamaah tersebut dapat saling melengkapi satu sama lain dalam perjuangan dan bukan saling menghujat juga mengkultus. Sehingga, hasil dakwah akan semakin maksimal.

“Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Jamaah-jamah Islam selayaknya saling melengkapi dalam perbedaan yang ada. Saling mengajak kepada kebaikan dan bersatu bagaikan tembok yang kokoh. Bukankah dalam urgensi berjamaah Allah telah berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104)

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa  dan  jangan  tolong-menolong  dalam  berbuat  dosa  dan pelanggaran." (QS Al-Maa'idah [5]: 2)

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seolah-olah mereka adalah bagunan yang tersusun kokoh.” (QS Ash-Shaff [61]: 4)

Dan Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Orang mu'min yang satu dengan orang mu’min lainnya seperti bangunan yang saling mempererat.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Perjuangan Syaikh Hassan Al-Banna dengan Ikhwanul Muslimin-nya yang berawal di Mesir, Syaikh Muhammad Ilyas Kandhalawi dengan Tabligh-nya yang berawal di India, Syaikh Taqiyuddin Nabhani dengan Hizbut Tahrir-nya yang berawal di Palestina, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan Salafiyah-nya yang berawal di Arab Saudi, Kyai Haji Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya yang berawal di Indonesia, juga para da'i lain dengan jamaah Islam-nya, seharusnya saling melengkapi dan bergerak dalam satu naungan meski berbeda cara perjuangan.

Bukankah begitu indahnya Islam dalam setiap perjuangan dakwah-Nya, jika kita dapat memilih cara yang berbeda namun tetap dalam satu tujuan?

Jika Sahabat ingin memperjuangkan Islam melalui sarana sosial seperti pendidikan, kesehatan, lembaga amal, dsb., Sahabat bisa bergabung dengan Muhamadiyyah.

Jika Sahabat ingin memperjuangkan Islam melalui pendidikan islami berbasis pesantern juga madrasah yang konsern dengan nuansa Islam, Sahabat bisa bergabung dengan Persatuan Islam.

Jika Sahabat ingin memperjuangkan Islam melalui partai politik dan tarbiyah (pendidikan Islam secara rutin dan kontinyu), Sahabat bisa bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.

Jika Sahabat ingin memperjuangkan Islam melalui pergerakan dakwah untuk menembalikan daulah khalifah, Sahabat bisa bergabung dengan Hizbut Tahrir.

Jika Sahabat ingin memperjuangkan Islam melalui dakwah kepada grassroot masyarakat dan dakwah dari pintu ke pintu, Sahabat bisa bergabung dengan Tabligh.

Dan jamaah lain yang berada dalam satu aqidah, lainnya –maaf penulis tidak dapat menyebutkan satu per satu–. Dengan sangat dipesilakan, Sahabat dapat memilih jalan juang Sahabat masing-masing. Namun tetap perlu diingat, janganlah ada pengultusan dan merasa jamaah sendiri yang paling benar.

Bukankah sangat indah ketika di dalam parlemen dan pemerintahan yang dipegang oleh partai politik Ikhwanul Muslimin, pemerintah berafiliasi dengan Hizbut Tahrir untuk membentuk sistem khalifah, kemudian pemerintah memberikan banyak bantuan bagi lembaga sosial Muhammadiyah dan mengembangkan pendidikan yang dinaungi Persatuan Islam, juga mendidik masyarakat untuk saling berdakwah kepada masyarakat lain layaknya jamaah Tabligh. Ketika Islam bersatu, akanlah indah seluruh aspek kehidupan.

Berjamaahlah. Dan janganlah buat Islam ini terpecah karena perbedaan.

“Kalian harus berjamaah karena tangan Allah bersama jamaah. Barang siapa melesat sendirian maka ia akan melesat sendirian di neraka.” (Hadits)

“Sesungguhnya setan adalah serigala manusia dan serigala itu hanya memakan kambing yang lepas (dari kawanan).” (Hadits)

“Kalian harus berjamaah, karena setan itu bersama orang yang sendirian dan dia akan lebih jauh terhadap dua orang.” (Hadits)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS Ali Imran [3]: 105)

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan Memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS Al-An’aam [6]: 159)

“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS Asy-Syuura [42]: 13)

“Barang siapa memisahkan diri dari jamaah sejengkal kemudian dia mati maka matinya adalah (mati) jahiliah.” (HR Muttafaq ‘alaih)

“Jauhkanlah diri kalian dari tindakan merusak hubungan persaudaraan karena tindakan itu adalah pencukur (agama).” (HR Tirmidzi)

Berjamaahlah. Dan janganlah saling memperolok dan mengultuskan ajaran jamaah sendiri.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS Al-Hujurat [49]: 11)

“Jauhkanlah diri kalian dari prasangka, karena prasangka itu merupakan omongan yang paling dusta. Janganlah saling mencurigai, saling menghasut, saling iri hati, saling membenci dan saling membuat makar. Tetapi jadilah Hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (Hadits)

Berjamaahlah. Dan sadarilah bahwa sesama muslim adalah saudara. Renungkanlah firman-firman Allah untuk setiap langkah perjuangan dan bait dakwah.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat [49]: 10)

“Bacalah Al-Qur’an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika kalian berselisih maka hentikanlah bacaan itu.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Berjamaahlah. Dan yakinlah bahwa ummat ini, agama Islam ini adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah. Maka berkumpulah dalam satu tujuan yang sama, yakni hanya untuk Allah semata. Janganlah berbuat kesesatan dan melakuan hal bid'ah (mengada-ada ibadah yang tidak dicontohkan Rasulullah saw.).

“Sesungguhnya Allah tidaklah menjadikan ummatku atau ummat Muhammad berkumpul (besepakat) di atas kesesatan.” (HR Tirmidzi dan Ahmad)

"... orang yang hidup setelahku nanti akan melihat banyak perbedaan pendapat (di kalangan umat Islam). Dalam keadaan seperti itu, hendaklah kalian berpegang pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu dan janganlah kalian mengikuti hal-hal bid'ah, karena setiap perbuatan bid'ah adalah sesat." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Bersatulah dalam satu naungan wahai para pejuang panji risalah Allah! Bersatulah meski perbedaan cara berdakwah menghadang dan fitnah-fitnah dakwah bermunculan! Yakinlah, kemenangan Islam akan terwujud dengan pejuangan dakwah ini dan ridha-Nya. Wallahu'alam.


Ditemani senandung-senandung Shoutul Harokah
Bumi Allah, 5 Sya'ban 1432 H – 5 Juli 2011 M
Annas Ta'limuddin Maulana

0 komentar:

Poskan Komentar