Senin, 06 Juni 2011

06062011, Berjalanlah dan Belajarlah

Kala sepertinya menunjukan angka 4 lebih di sore hari, ketika kaki akhirnya menyambangi mulut pintu dan dimulailah perjalanan. Ya, 6 Juni 2011 ini memberikan inspirasi tersendiri. Tidak seperti biasa, entah ada angin apa, tiba-tiba hati tergerak untuk berjalan sore disekitar perumahan yang tengah ditinggali sampai saat ini. Jujur, saya bukanlah orang yang interst untuk jalan-jalan (apalagi disekitar rumah).

Mengingat masa kecil dahulu, 10 tahun yang lalu, ayah mengajak berjalan sore bersama untuk menikmati angin petang dan memberikan salam perpisahan kepada sang mentari di hari itu yang ingin 'pulang', entah mengapa jalan-jalan itu memberikan bekas tersendiri. Senangnya melihat orang-orang sibuk dengan kegiatannya dengan berbagai ekspresi yang mereka tunjukan. Dan itu memberikan inisiatif pada 6 Juni ini.

Bukan hanya berniat untuk menghabiskan waktu, pun menunggu kala berbuka puasa, namun sepertinya mata ingin kembali melihat realita yang sering luput meski diri dekat dan begitu seringnya berinteraksi dengan sesama. Yap! Niat saya kali ini bejalan untuk belajar, apakah masih banyak kejadian yang belum ditafakuri dan bebagai macam hikmah yang saya lupakan.


Bukan kebetulan komplek perumahan saya sangat berdekatan dengan komplek-komplek perumahan lain dan bahkan dekat dengan perkampungan juga sawah dan ladang (dan saya begitu tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk bertafakur sebelumnya). Baik, dimulailah perjalanan sang kaki untuk menelusuri perkampungan didekat komplek, hingga akhirnya mengitari perumahan-perumahan lain.

Dan ternyata begitu banyak fenomena yang mungkin biasa terlihat, namun jika hal itu tersadari, maka banyaklah hikmahnya. Pernahkah Sahabat melihat fenomena sekumpulan kelinci yang yang sedang asyiknya makan dan bermain? Mungkin hal itu sangatlah biasa, namun bisakah hal itu ditarik hikmahnya? Ternyata begitu hebatnya Sang Mahakuasa menciptakan makhluk hidup yang nyatanya tidak akan pernah ada makhluk yang menandingi-Nya.

Berjalanlah dan belajarlah bagaimana seorang ayah menimang bayinya ditengah lapang bermain seraya menjaga anak-anaknya yang lain (yang masih kecil pula) bersepeda dan tertawa riang.

Berjalanlah dan belajarlah bagaimana seorang ibu rela meluangkan waktu sorenya mengajak dan mengajari balitanya menaiki sepeda. Juga ibu yang lain yang mengajak kedua anaknya mengendarai motor untuk menghibur mereka.

Berjalanlah dan belajarlah meski jalan perkampungan yang harus ditapaki. Meski jalan setapak yang hanya selebar 2 orang untuk berjalan mesti dilalui. Perhatikanlah bagaimana orang-orang saling menyapa dan hidup harmonis didalamnya.

Berjalanlah dan belajarlah kepada anak-anak yang sedang bermain dan membersihkan lingkungannya. Begitu indah segala gerak-gerik mereka ditambah merekahnya senyum diantara wajah-wajahnya.

Berjalanlah dan belajarlah bagaimana 2 orang kakek saling besenda gurau menikmati alunan angin dan setiap detik dari masa, sambil mengais barang-barang 'buangan' demi beberapa koin rupiah.

Berjalanlah dan belajarlah bagaimana beberapa tukang bangunan berpeluh demi mencari sesuap nasi bagi keluarga yang sedang mereka rindukan.

Berjalanlah dan belajarlah bagaimana seorang lelaki renta bermain dengan ayam-ayamnya dengan begitu mencerminkan kebahagiaan dibalik kesederhanaan.

Ya, berjalanlah dan belajarlah bagaimana Tuhan menciptakan dan perhatikanlah. Sungguh mata manusia sering luput dari berbagai hal yang bermakna meski itu berarti sedikit baginya.

Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Ankabuut [29]: 20)

Ya, kadang kita begitu meremehkan kejadian-kejadian disekitar kita hingga kita bahkan lupa untuk mensyukuri setiap nikmat dari hikmah yang dapat dengan mudahnya kita petik.

Tak disadari hari semakin petang dan perlahan mentari pulang disertai bulan yang datang. Telah 5 komplek perumahan dilalui dan jarak beberapa kilometer yang telah ditapaki. Hampir terlupa amanah sang ibu untuk membelikan es campur sebagai hidangan pembuka saat berbuka puasa. Diakhirinya perjalanan ini begitu memberikan hikmah. Entah itu tubuh yang lelah atau tetesan-tetesan peluh, tidaklah itu membuat hati gontai untuk tetap bertafakur. Semoga hari ini bermanfaat.


Ditemani Outlandish - When Angels Lower Their Wings
Bumi Allah, 6 Rajab 1432 H – 6 Juni 2010 M
Annas Ta'limuddin Maulana

0 komentar:

Posting Komentar