Selasa, 10 Mei 2011

Antara Negara Madinah, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Negara Islam Indonesia

Sering denger ga sih, tujuan setiap negara yang berdiri di muka dunia tuh kan membangun negeri yang makmur dan menciptakan masyarakat madani, iya ga? Tapi tau ga sih arti dari kata 'masyarakat madani'? Ternyata asal kata madani adalah sebuah nama negara yang terbukti sukses menyelenggarakan kehidupan bernegara dengan makmur dan membuat struktur kemasyarakatan yang luar biasa tertata dalam tatanan moral dan kemanusiaan yang begitu rapi pada +/-1400 tahun yang lalu. Dan nama negara itu adalah negara Madinah Al-Munawarah. Yap, Madinah. Madinah dan madani, ga beda jauh kan pelafalan katanya? Hehe. Eh, tapi serius, lho, negara Madinah merupakan sebuah negara paling sukses di masanya, bahkan paling sukses dari dulu hingga kini. Ga tahu negara Madinah? Yuk kita telusuri sejarahnya.

Pada hari Jumat, tanggal 24 September 622 Masehi, yang bertepatan dengan 12 Rabi'ul Awal 1 Hijriah, sebuah negara republik pertama berdiri di antara negara-negara monarki (kerajaan), yang masyarakatnya terdiri dari suku-suku 'badui' dimana sebelumnya mereka tidak pernah mengenal tatanan kenegaraan dalam kemasyarakatan. Madinah Al-Munawarah, negara ini hanya terbentang sebatas sebuah kota di tengah panasnya gurun Arabia di Timur Tengah. Negara Madinah terletak di atas tanah kota Yastrib (salah satu kota yang sebelumnya tidak berdaulat dan tidak berpenguasa), sebuah kota niaga yang sangat terkenal. Lalu, siapa sih pendiri negara Madinah? Ternyata pemimpin pertama negara ini bukan berasal dari kota Yastrib sendiri, namun berasal dari kota tetangganya yang bernama Makkah. 'Presiden' pertama sekaligus pendiri Madinah itu adalah Muhammad ibn Abdullah ibn Syaibah ibn Hasyim ibn Abi Manaf. Ya, ternyata pendiri negara Madinah adalah rasulullah Muhammad saw. Beliaulah seorang presiden negara republik pertama di dunia!

Negara ini berdiri di bawah dasar negara dan konstitusi Piagam Madinah (Madinah Charter), yang rasul saw. susun bersama para warga negaranya. Makanya nama negaranya Madinah, soalnya kota Yastrib yang waktu itu secara aklamasi dipimpin rasul saw. berganti nama menjadi Madinatun Nabiy (Kota Nabi) yang selanjutnya dikenal dengan nama Madinah. Penduduk negara ini terdiri dari berbagai macam suku, ras, dan agama. Penduduk Madinah terdiri dari berbagai macam suku seperti: Khazraj, Aus, Quraisy, Qainuqa, Quraidah, Musthaliq, dll. Terdiri pula dari berbagai ras seperti: Arab, Persia, dan Yahuda. Juga terdiri dari berbagai macam agama seperti: Islam, Nasrani, Yahudi, Majusy, bahkan Pagan (penyembah berhala).

Pada awal berdirinya, Madinah hanyalah sebuah negara kota (polis) saja, namun setelah 8 tahun berdiri, negara ini nyata menjadi negara repulik (karena perluasan daerah juga bentuk dasar negara yang merupakan kesepakatan seluruh elemen masyarakat) yang wilayahnya terbentang sepanjang semenanjung Arab. Bahkan pada tahun yang sama (8 Hijriah), Madinah mampu melawan negara adidaya yang terbesar di dunia saat itu yakni Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) dalam kancah Perang Mu'tah dengan hasil seri. Begitu hebatnya negara yang baru berdiri 8 tahun lamanya ini sehingga dapat memukul mundur pasukan negara Romawi, yang notabene merupakan negara Adidaya (kalau zaman sekarang ibarat menang perang lawan Amerika Serikat), yang juga telah bediri ratusan tahun sebelumnya.


Namun pada 'dirgahayu' Madinah yang ke-11, pemimpin negara itu, Muhammad saw. dipanggil Sang Pencipta, kekasihnya, Allah swt. Tepatnya pada hari Senin, 8 Juni 632 Masehi, yang bertepatan dengan 12 Rabi'ul Awal 11 Hijriah. Sehingga seketika itu juga, 2 'partai' yang berada di Madinah yakni Muhajirin (para pengikut nabi yang berasal dari Makkah) dan Anshar (para penduduk asli Yastrib) melaksanakan diskusi yang alot untuk memilih pemimpin negara. Abu Bakr Ash-Shiddiq yang dicalonkan Muhajirin dan Sa'ad ibn Ubadah yang dicalonkan Anshar merupakan nama kuat penerus kepemimpinan nabi saw. Melalui musyawarah yang menemui kata mufakat, akhirnya seluruh kaum muslimin dan para penduduk Madinah secara aklamasi memilih Abu Bakr sebagai khalifah (pemimpin atau 'presiden') setelah nabi. Perpindahan kekuasaan pun terjadi ketika Abu Bakr mewasiatkan tahtanya kepada Umar ibn Khaththab dikarenakan usianya yang sudah uzur setelah beliau wafat. Pada kekuasaan Umar lah, negara Madinah pun melaksanakan 'ekspansi' besar-besaran. Negara Madinah ini akhirnya meruntuhkan negara Romawi di Eropa dan negara Persia di Mesopotamia (padahal kedua negara itu adalah negara adidaya yang sama-sama telah berdiri sejak ribuan tahun sebelumnya), sehingga terbentanglah Negara Kekhalifahan Madinah dari Eropa, Afrika Utara, hingga Cina Barat.

Itulah negara multikultural, multietnik, dan multiagama yang patut dijadikan contoh oleh seluruh negara modern di dunia. Negara yang memiliki kualitas penduduk yang baik hatinya, kualitas pemimpin yang amanah, kualitas negara yang menjamin kemakmuran, sehingga tercapailah kejayaan.

Kembali ke realitas kini, kita adalah penduduk negara Indonesia. Indonesia, merupakan negara multikultural, multietnik, dan multiagama terbesar di dunia saat ini. Tercatat ribuan suku dan berbagai ras juga agama dipersatukan pada 17 Agustus 1945, dengan dasar negara Pancasila dan konstitusi Undang-undang Dasar Tahun 1945. Negara yang dipimpin pertama kali oleh Ir. Soekarno ini terdiri dari banyak suku (seperti: Batak, Baduy, Betawi, Sunda, Jawa, dll.), banyak ras, dan banyak agama (yakni Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghuchu). Hal ini merupakan berkah yang begitu indah dalam persatuan dan kesatuan, meski berbagai perbedaan menjadi batas.

Hmmm, ya, kalau kita cermati uraian di atas, kita sadar ga sih, ternyata Madinah dan Indonesia memiliki banyak persamaan. Sama-sama negara republik (meski akhirnya Madinah menjadi negara kekhalifahan), sama-sama negara multikultural, multietnik, dsb. Namun mirisnya, rasanya Madinah dan Indonesia sangat berkebalikan dalam melaksanakan pelaksanaan kenegaraannya.

Madinah dipimpin oleh seorang penguasa yang disegani dunia, namun sang pemimpin tidaklah memiliki istana. Kehidupan si miskin dan si kaya di sana begitu rukun dengan asas saling memberi dan membantu. Keanekaragaman etnik begitu indah mempertontonkan keharmonisan. Keberagaman agama menjadi dasar kekokohan yang mencerminkan kebaikan para hati warganya. Moral menjadi laku utama sebagai dasar kehidupan, dsb.

Tapi Indonesia sangatlah berbeda. Para penguasa negara begitu haus akan kekuasaan dan rakus akan harta. Kehidupan mereka yang kurang beruntung begitu timpang dengan mereka yang bisa membeli 'segalanya'. Keberagaman etnis dan agama menjadi dasar anarkisme karena perbedaan nampaknya menjadi hal yang perlu dihapuskan. Juga moral yang begitu merosot, sangat berbeda dengan nilai budaya dan agama yang awalnya bagitu lestari.

Padahal banyak kesamaan, tapi malah jadi sangat nyaman dengan perbedaan, iya ga sih? Sangat disayangkan. Dan mungkin itulah yang menjadi dasar sebagian orang yang ingin meruntuhkan Indonesia menjadi negara mandiri yang memiliki idealis untuk memajukan bangsa, iya ga sih? Banyak usaha pemberontakan yang dilakukan dengan cara yang bermacam. Mulai dari PKI untuk mengubah NKRI menjadi Negara Soviet Indonesia. Gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang menginginkan kemerdekaan mandiri karena ketidakpuasan terhadap pemerintah, layaknya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Gerakan Papua Merdeka, dan lainnya. Sama juga kayak yang sekarang lagi santer-santer jadi berita di banyak media. Yap, apalagi kalau bukan NII KW 9, sebuah gerakan yang ingin membentuk Negara Islam Indonesia.

NII. Banyak yang bilang kalau gerakan ini sangat berbahaya bagi Indonesia, bahkan Islam itu sendiri. Yap, sepakat! Gimana enggak, masa ada gerakan pemberontakan yang dengan berbagai cara menghalalkan segalanya dalam membangun sebuah negara yang inginnya murni berlandaskan Islam. Ckck, mulai dari penculikan, hipnotis, bahkan pemerasan dengan topeng infaq wajib mereka lakukan demi perekrutan warga negara dan mempertahankan negara. Dan semua itu mereka lakukan dengan dalih untuk membuat sebuah negara yang diselmuti berkah Allah swt. Belum lagi mereka menganggap orang di luar mereka (WNI), sebagai orang kafir! Halah haha, bukannya rasul saw. ga pernah ngajarin penculikan, hipnotis, infaq wajib (selain zakat), dan pemberontakan? Atau kah rasul saw. pernah mengkafirkan orang yang secara jelas memiliki aqidah yang sama? Sekali-kali tidak! Bukan kah melakukan kebaikan dengan cara yang salah adalah perbuatan yang salah juga?


Coba cek lagi yuk. Rasul saw. mendirikan Madinah dari sebuah wilayah yang tidak berdaulat, kan? Bukan pemberontakan negara lho yang beliau lakukan.

Bukankah rasul saw. tidak pernah menjadikan sebuah hukum suatu ras atau komunitas agama sebagai dasar negara? Beliau justru membuat kesepakatan bersama antara banyak komunitas agama untuk membuat suatu konstitusi yang sesuai bagi bersama (Piagam Madinah).

Bukankah di dalam negara Madinah terdiri dari berbagai macam agama? Bahkan mereka hidup rukun dalam keharmonisan. Bukan saling menyalahkan salah satu agama karena perbedaan keyakinan.

Itu lah sebagian dari perbedaan yang ada sebagai warna dalam kehidupan yang 'abu-abu'. Mungkin kita merindukan sebuah negara yang solid dimana kita bisa merasakan kemakmuran sebagai individu dalam kehidupan sosial. Dan mungkin salah satunya adalah mendirikan negara Islam yang menjadi replika negara Madinah pada zaman dahulu. Secara hak asasi, memang bukanlah kesalahan ketika kita menginginkan hadirnya negara Islam. Namun pemberontakan dan anarkisme bukanlah jawaban. Bukankah lebih indah untuk membuat masyarakat madani terlebih dahulu, memperbaiki moral bangsa, menanamkan nilai agama baik pada pemimpin dan rakyatnya? Ketika mereka mengerti untuk membentuk sebuah negara yang makmur dan bermoral, maka kemungkinan besar impian besar itu akan terwujud. Coba bandingkan dengan cara anarkisme. Orang-orang justru akan menjadi apatis dan apriori meski kita mengajak orang-orang untuk hal yang baik. Belum lagi anarkisme dapat mencoreng muka 'kebenaran' yang dibela.

Maka dari itu, mari bangun bersama nilai agama dan moral bangsa untuk bangkit menghadang berbagai keterpurukan. Dimulai dari lingkungan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, hingga dunia.

Semoga bermanfaat. Dan sebagai penutup dengan bangga saya berkata, "saya adalah seorang muslim, saya seorang WNI, saya menginginkan hadirnya kekhalifahan islami, tapi saya bukanlah NII".

Wallahu'alam bish shawab.


Annas Ta'limuddin Maulana
Bumi Allah, 6 Jumadil Akhir 1432 H 10 Mei 2011 M

0 komentar:

Posting Komentar