Sabtu, 19 Februari 2011

Tuhan dan Iblis: Kebaikan yang Relatif dan Kebenaran yang Absolut



***

Mahasuci Allah swt. yang telah mengizinkan seluruh makhluknya hidup menjalankan setiap peran yang Dia inginkan. Mahakuasa Allah swt. yang telah mengizinkan setiap makhluknya bebas hidup tanpa sedikitpun pungutan biaya dari setiap nafas yang tehirup dalam menjalani hidup.

Sahabat, hanya sedikit hal yang ingin bagi, karena hanya ada satu hal yang diberi. Seorang bijak mengatakan, “Kebaikan dan keburukan adalah suatu keniscayaan. Namun perlu diingat, kebaikan itu relatif dan kebenaran itu absolut. Karena kebaikan dan keburukan itu berbeda. Namun segalanya, kebaikan, kuburukan, bahkan kebenaran, seluruhnya adalah kuasa Tuhan, Allah swt.”.

Ketika kita hidup sebagai manusia, sesosok makhluk Allah swt. yang paling sempurna di antara makhluk-Nya yang lain, kita mulai belajar bagaimana mengendalikan segala macam pemikiran dan logika yang begitu derasnya mengalir hingga terkadang kita berlebihan dalam segala macam logika dan batasan akal kita sebagai manusia. Namun mari kita cermati. Sebut saja makhluk ciptaan Allah swt. yang Maha Pencipta lainnya seperti: malaikat, jin, dan makhluk biologis planet bumi lainnya –monera, protista, fungi, plantae, dan animalia–, hingga terakhir manusia, memiliki peranannya masing-masing dengan segala potensi yang telah Allah swt. beri.

Plantae atau tumbuhan, merupakan makhluk Allah swt. yang dapat melakukan metabolisme hidup dengan ‘meracik’ makanannya sendiri dengan bantuan cahaya matahari dalam merombak senyawa anorganik (senyawa yang tak hidup) menjadi senyawa organik (senyawa hidup) yang akhirnya dapat dikonsumsi. Dengan kata lain anabolisme. Hingga akhirnya tumbuhan merupakan grassroot bagi seluruh makhluk biologis lain untuk hidup dan terciptalah rantai makanan sederhana. Maka coba renungkan sebuah firman Allah swt. yang Maha Memiliki Nama-Nama Indah:

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 13)

Animalia atau hewan, merupakan makhluk Allah swt. yang hidup bergantung pada makanan-makan organiknya yang tumbuhan hasilkan, sehingga siklus kehidupan berjalan secara teratur. Atau dengan kata lain katabolisme. Hingga hewan pun dapat tetap survive tanpa harus memiliki peranan tumbuhan dalam merombak senyawa anorganik menjadi organik. Dalam hal ini, manusia memiliki peranan yang sama seperti hewan untuk mengkonsumi tumbuhan dalam menjalankan siklus kehidupannya.

Monera –bakteri–, protista, dan fungi –jamur– sebagai makhluk biologis yang hidup pertama di bumi, ternyata memiliki peranan yang sama pentingnya seperti tumbuhan dan hewan untuk menjalankan peranannya dalam siklus kehidupan. Tanpa makhluk-makhluk ini mungkin planet bumi akan penuh dengan bangkai karena makhluk mungil ini memiliki peranan sebagai dekomposer atau pengubah senyawa organik menjadi anorganik –sangat berkebalikan dengan tumbuhan–.

Begitu teraturnya dunia, maka apakah sekali lagi kita tidak dapat merenungkan:

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 16)

Lalu bagaimana peranan makhluk ghaib Allah swt.? Mari kita diskusikan.

Malaikat, adalah makhluk Allah swt. yang paling taat. Tercipta dari sibakan cahaya yang begitu menyilaukan mata. Tubuhnya tersusun atas ‘kromosom-kromosom’ pekerti dan akal tanpa diberikan-Nya nafsu.

Jin, adalah makhluk hidup ghaib yang menjadi khalifah di bumi sebelum manusia. Tercipta dari percikan-percikan dan nyala api yang begitu panas terasa. Tubuhnya tersusun dari hawa nafsu yang begitu membara juga sedikit akal yang ada padanya.

Namun berbeda dengan makhluk Allah swt. yang satu ini. Ya. Manusia. Adalah makhluk yang begitu sempurna dari segala penciptaan. Setiap ‘gen dan kromosomnya’ terdiri dari aliran akal dan nafsu yang sama jumlahnya. Namun ketika terlahir, kelak kehidupan setiap makhluk yang bernama manusia itu akan bergantung pada kadar akal dan hawa nafsu yang fluktuatif jumlahnya.

Dalam firman-Nya Allah swt. berfirman:

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At-Tiin [95]:4)

Maka apakah kita setidaknya merenungkan:

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 18)

***


Sahabat, inilah setitik ilmu Allah swt. yang manerap dalam logika kita sebagai manusia. Sebagai kelebihan kita di antara makhluk Allah swt. lainnya.

Logika. Suatu hal yang sering kita andalkan secara belebihan dalam segala pemikiran. Namun, logika itu begitu lemah untuk mencapai suatu ilmu ketuhanan yang Allah swt. miliki. Dan secara ironisnya banyak manusia yang terjebak dengan kelebihannya sendiri ini dan terperosok pada suatu kondisi ‘keburukan’ yang Allah swt. ciptakan.

***

Sebelumnya tentang kita, antara Tuhan dan iblis yang menjadi perbincangan, tentang semua cerita dibalik drama kehidupan yang kita alami, itu adalah sebuah misteri yang mutlak yang harus kita kembalikan lagi ilmunya kepada Allah swt. tanpa banyak mengandalkan logika kita untuk setidaknya berpikir.

Ya, Azazil dan segala cerita drama yang kita simak sebelumnya benar secara dalil hingga sejarah nabi Adam as. diciptakan. Namun cerita mengenai skenario yang selama ini menjadi perdebatan, itu adalah sebuah dusta belaka! Dengan mengedepankan logika, setiap manusia dapat membuat cerita menurut versi kebaikannya masing-masing.

Ya, semua itu hanyalah bahan pembelajaran bagi kita untuk tidak begitu mencampuri urusan Yang Mahakuasa dalam segala misteri-Nya. Mengapa kita tidak mencoba untuk menjalankan peran kita sesuai dengan yang Allah swt. inginkan?

Bagi mereka yang terjebak alunan logika, mereka senantiasa mengikuti alur akalnya yang lemah dan sangat mudah sekali untuk Allah swt. patahkan. Mereka begitu percaya bahwa dibalik kehidupan Tuhan berkonspirasi dan melakukan suatu skenario. Hingga akhirnya tidak ada tempat bagi Tuhan dihati mereka dan menjadikan iblis sebagai sosok yang terlalu diagungkan secara berlebihan.

Atheisme –termasuk Darwinisme, Lenninisme dan Marxisme– juga Satanisme atau satanic, adalah ironi di antara logika manusia yang begitu lemah. Yang mereka percaya bahwa Tuhan itu tidak ada bahkan suatu sisi mengagungkan sisi keburukan dengan simbol-simbol iblis yang ada. Itu semua karena logika.

Sahabat, tidak ada yang tahu selain Allah swt. yang Mahatahu dibalik penciptaan Azazil yang awalnya begitu mulia hingga akhirnya terkutuk di dasar Neraka, juga maksud dari penciptaan manusia. Namun artikel sebelumnya ada, itu semua karena logika. Ya. Itu semua karena logika.

Sahabat, satu hal yang ingin dibagi adalah, terkadang logika kita tidak pernah akan sampai untuk mencermati segala keinginan Tuhan, Allah swt.

Apa yang hendak kita tuntut untuk semua ‘kesempurnaan hidup’ yang kita inginkan kepada Tuhan sehingga kita berani untuk menantang dalam setiap do’a-do’a kita kepada-Nya? Bukankah kita telah diberikan kesempatan hidup dan itu merupakan sebuah kenikmatan yang sangat besar?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 21)

Apa yang hendak kita lakukan lagi selain yang Allah swt. inginkan, hingga kita dengan beraninya berkata, “aku terjebak dalam kehidupan sebagai permainan yang Tuhan buat”, padahal kehidupan yang kita alami sangatlah berharga bahkan tak ternilai harganya?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 23)

Memang kehidupan hanyalah permainan. Mungkin sebuah ayat dari firman-Nya akan mengingatkan kita bahwa begitu lemahnya manusia dengan segala logika-logikanya:

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS Muhammad [47]: 36)

Namun jangan kita artikan bahwa ini merupakan permainan jahat. Tidaklah pantas bagi kita untuk menyandingkan kata jahat kepada Dia, Allah swt. yang Mahasuci. Jika sebegitu beraninya kita kepada-Nya maka apakah itu balasan yang layak kita lakukan kepada Allah swt. atas segala nikmat-Nya yang pernah kita rasakan. Sekali-kali tidak! Tuhan tidaklah hina! Tuhan itu ada!

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 25)

Dalam firman-Nya yang lain kepada kita. Allah swt dengan Mahabijaksana-Nya meningatkan kita:

Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (QS Al-Anbiyaa' [21]: 17)

Namun apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah segala kenikmatan yang kita alami, harta, nyawa, dan segala mimpi, impian, dan harapan baik kita adalah permainan buruk semata? Sekali-kali tidak! Tuhan tidaklah hina! Tuhan itu ada!

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 28)

Dalam mencermati kehidupan, kembali Allah swt. mengingatkan segalanya kepada manusia, sesosok makhluk pembangkang yang merasa dirinya lebih hebat dari penciptanya:

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS Al-Hadiid [57]: 20)

Ya, kehidupan hanyalah permainan dan senda gurau. Tapi bukanlah permainan dan senda gurau belaka yang ada dibaliknya! Ada tujuan dimana kita sebagai makhluknya melakukan apa yang pencipta kita inginkan! Dan itulah keadilan! Kita tidak bisa menuntut segala yang kita inginkan sebagai keadilan! Sekali-kali tidak! Tuhan tidaklah hina! Tuhan itu ada!

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahmaan [55]: 33)

Dan dibalik segala ke-Maha-an Allah swt. yang Maha Merajai Hari Pembalasan, sungguhlah:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah [2]: 208)

Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu, (QS Al-An'aam [6]: 142)

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Yusuf [12]: 5)

Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS Al-Israa' [17]: 53)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", (QS Yaasin [36]: 60)

Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Az-Zukhruf [43]: 62)

Dan untuk segala kata yang terucap, janganlah tertipu akan tipu daya yang Azazil dan anak buah-anak buahnya lakukan. Mungkin dahulu dialah makhluk yang begitu mulia, namun itu cerita lama.

Dan untuk segala kata yang terucap, janganlah kita terlena akan nikmat logika sebagai senjata kita. Terlalu mengedepankan logika hingga akhirnya sombong dengan segala yang kita ketahui, bukanlah kunci untuk mendapatkan kebaikan yang kita idamkan.

Bahkan ingatkah Sahabat bagaimana Azazil bisa terjatuh dari gelar mulia hingga berada di dasar Neraka? Sombong, itulah jawabannya. Maka apakah Sahaat ingin mengulang kembali lembaran sejarah layaknya Azazil pada diri Sahabat?

Itulah logika. Kita hanya bisa memikirkan kebaikan yang relatif tanpa mengetahui kebenaran yang absolut. Coba buka mata, hati, dan telinga.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS Adz-Dzariyaat [51]: 56)


Sebuah dedikasi untuk seorang sahabat
Bumi Allah, 15 Februari 2001
Annas Ta’limuddin Maulana

0 komentar:

Poskan Komentar