Sabtu, 19 Februari 2011

Tuhan dan Iblis: Iblis yang Mulia dalam Permainan Kebaikan dan Keburukan


Didedikasikan untuk segenap sahabat yang setidaknya pernah mewarnai hidup dengan setiap goresan kuasnya masing-masing.

Bagi mereka yang merasa dirinya tuhan atau yang merasa dirinya dekat dengan Tuhan. Ini  hanya sekedar cuplikan dari refleksi dan prespektif pribadi yang mendasar. Hanya sedikit buah pemikiran tentangnya.

Iblis. Mungkin atau bahkan sangat akrab ditelinga Anda dan Anda lebih sering menafikan kata ‘iblis’ tersebut dengan istilah keburukan. Namun sebelum jauh kita mengenalnya, tahu apa dan pikiran mendasar apa yang tertanam pada diri Anda hingga Anda yakin bahwa zat yang kita sedang bicarakan merupakan zat yang jahat? Tahu apa akal Anda tentangnya hingga Anda berani berkata dialah sumber kejahatan? Tahu apa nalar Anda tentangnya hingga Anda mengkambing hitamkan segala kejahatan berada padanya.

Coba penulis tebak. Anda, hanya tahu cerita tentang iblis turun-termurun dari orang tua-orang tua Anda yang bahkan mereka pun mendapatkan cerita yang sama dari orang tua-orang tua mereka tanpa tahu apakah sumber cerita itu shahih atau tidak. Benar?

Atau Anda tertipu oleh seorang tua berjanggut putih panjang yang renta, yang ia hanya mendongengkan cerita-cerita maya yang larut dalam utopia dan mimpi-mimpinya belaka?

Penulis hanya bisa berkomentar, “Terlalu naif untuk mereka termasuk Anda yang berkata iblis hanyalah makhluk hina yang jauh dari kata mulia”. Percaya atau tidak. Tahukah Anda bahwa iblis merupakan makhluk yang sangat mulia. Jika dan hanya jika teori Anda akannya berbeda –dengan penulis–.

Mari kita buktikan satu per satu tentang kesahihan iblis sebagai sosok makhluk yang mulia dalam tinjauan logika (secara fisis, biologis, dan matematis) maupun ilmu agama.

Dalam semua agama, baik itu agama-agama Abrahamisme (Ibrahimiyah) –yakni Yahudi, Nasrani Kristen maupun Katholik, Islam Sunni, dan Islam Syi’ah– juga agama-agama mitologi –Hindu, Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, juga ‘isme-isme’ lainnya–, tidak pernah tidak lekat dengan kata-kata ‘iblis’, ‘setan’, ‘roh jahat’, dan sebagainya, sebagai pembanding sifat keburukan untuk sifat ke-Maha-an Tuhan. Singkatnya iblis adalah sosok yang ditekankan setiap agama manapun sebagai sosok yang berkebalikan dengan sosok Tuhan.

Tapi tahukah Anda bahwa paradigma ini hanyalah ‘permainan’ antara kedua sosok itu semata –iblis dan Tuhan–?

Bahkan fakta yang akan dipaparkan selanjutnya akan menceritakan bahwa terkadang iblis bisa sebegitu mulianya dihadapan Tuhan dan makhluk lain, juga Tuhan yang bisa sebegitu hinanya dihadapan semua umat-Nya. Kita mulai fakta ini dari sejarah sang iblis.

***

 
Iblis. Adalah sebutan yang sangat akrab di telinga kita. Mungkin begitu mendengarnya, terbayang sesosok ‘merah’, tinggi, tegap, dengan aksesori tanduk, ekor, yang juga lengkap dengan satu seri gigi taringnya dibenak Anda.

Ceritanya bermula ketika Tuhan ‘ada’ dan menciptakan alam semesta termasuk bumi yang sekarang kita pijaki.

Tahukah Anda, menurut sains, ketika awal penciptaannya bumi merupakan sebuah bola api  yang saat itu belum dapat dihuni oleh makhluk manapun dikarenakan kondisinya yang begitu panas.

Dan tahukah Anda bahwasanya iblis –atau jin–, makhluk yang sedang kita bicarakan merupakan mahluk yang terbuat dari api? Sebuah firman Tuhan mungkin dapat mengingatkan kita:

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr [15]: 27)

Hal ini sangat berhubungan dengan bumi yang kala awal penciptaannya masih diselimuti api. Sangat korelatif antara iblis (jin) dengan apa yang ada di bumi saat itu. Sehingga sangat jelas batapa jin yang terbuat dari api saat itu bisa menjadi makhluk yang hidup di bumi. Dan menjadi penguasa di dalamnya.

Dan Tuhan kembali mendongeng:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Kata-kata Tuhan tadi merupakan bukti nyata bahwa kata ‘jin’ lebih didahulukan daripada kata ‘manusia’ karena sebelum manusia hidup menjadi penguasa di bumi, jin telah terlebih dahulu ada sebagai penguasa pertama planet bumi. (Silakan baca literatur tafsir Al-Qur’an manapun tentang ayat di atas sebagai rujukan)

***

Telah jelas Tuhan bercerita. Lalu, sebenarnya siapakah iblis? Dari tadi kita hanya berbicara tentang makhluk bernama jin.

Tahukah Anda siapakah sebenarnya iblis? Tahukah Anda bahwasanya iblis hanyalah sebutan kepada sesosok makhluk dari golongan jin semata? Fakta itu terungkap. Nama asli dari sesosok iblis adalah... ‘Azazil’ –dalam literarur Islam– atau dalam literatur Nasrani kita akrab dengan nama ‘Lucifer’.

Azazil. Ya. Inilah makhluk yang dari awal kita perbincangkan. Dia adalah sesosok jin yang mulai hidup saat ratusan ribu tahun yang lalu, ketika bumi masih berada di awal penciptaan-Nya. Kala itu dikalangannya, Azazil sangatlah disegani. Kala itu dialah pemuka agama Tuhan. Dialah makhluk yang paling mulia di antara kaumnya, juga di mata Tuhan. Singkatnya, Azazil bisa kita sebut ‘nabi besar’ bagi kalangan jin manapun.

Diantara seluruh makhluk Tuhan, dialah makhluk yang paling sering memuja-Nya. Tak kenal peluh, siang dan malam dia habiskan waktunya untuk terus bersujud kepada Tuhan yang Maha Esa. Layaknya sosok Musa sang utusan Tuhan, Isa Al-Masih dan Muhammad rasulullah, dialah makhluk yang sangat Tuhan cintai di masanya.

Hingga suatu perbincangan ‘penduduk langit’ –malaikat dengan malaikat lain– saling berbisik mengenai keimanan seorang Azazil. Penduduk langit sangatlah iri dengan seluruh curahan jiwa Azazil untuk Tuhan, bagitu pun curahan Tuhan untuk Azazil. Hingga bisikan malaikat dibelakang Tuhan itu pun akhirnya ‘terdengar’ jua oleh-Nya. Malaikat yang merasa malu atas perbincangan itu pun akhirnya berkata:

“Wahai jiwaku yang berada dalam genggaman-Mu, tanpa menurunkan sifat ke-Maha-an-Mu hamba hanya ingin mencurahkan hati. Mengapa Engkau tidak menaikan hamba-Mu –Azazil– di bumi dan mempersilakannya ‘bersenda gurau’ juga saling memuja-Mu bersama kami di sini. Di langit-Mu. Sedangkan dialah makhluk yang paling sering bersujud kepada-Mu ketika siang, dan dialah makhluk yang paling sering memuja nama-Mu ketika malam.”

Begitu rendahnya para malaikat dihadapan Sang Mahakuasa dengan penuh harap pun iba. Dan Tuhan pun dengan sifat ke-Maha Pengasihan-Nya mengundang Azazil sebagai tamu kehormatan-Nya untuk tinggal selamanya di Surga, hidup bersama kepakan sayap malaikat dan bersenda gurau bersama mereka.

Siapa yang ingin menolak Surga sebagai jaminan hidup abadi selamanya? Bukankah demi itu Azazil rela berpeluh sujud hanya pada-Nya sedari pagi hingga malam? Maka Azazil pun dengan senyum lebarnya memenuhi undangan dengan hati yang ikut tersenyum pula.

Hingga hiduplah Azazil ­­–sesosok jin– diantara malaikat-malaikat Tuhan dengan damai. ‘Satu titik api’ di antara cahaya-cahaya malaikat di langit.

***

Lalu bagaimana dengan nasib bumi? Sebuah planet yang kini kehilangan makhluk tebaiknya, yakni Azazil?

Ternyata di sisi lain, di balik dialog antara malaikat yang meminta Azazil tinggal di langit dengan Tuhan yang mengizinkannya, terdapat rencana dan sebuah ide baru bagi Tuhan.

Kini, penciptaan bumi sudah semakin sempurna. Bumi kini bukanlah sebuah bola api. Siklus alaminya sudah membuat atmosfir bumi membaik dan temperaturnya menurun drastis. Api panas yang dulu membakar bumi menyebabkan kepulan asap hingga terbentuklah awan yang tak mampu menanggung beban molekul-molekul berat termasuk air untuk turun dan mendinginkan bumi. Hingga bumi kian stabil dengan iklimnya, sejak saat itu bumi mulai memungkinkan untuk dihidupi makhluk hidup-makhluk hidup biologis untuk hidup. Dimulai dengan hidupnya makhluk uniseluler seperti bakteri hingga diciptakan pulalah oleh Tuhan beragam hewan lain yang lebih kompleks, dari monera & protista (bakteri), fungi (jamur), tumbuhan, hingga hewan.

Kini Tuhan memiliki ‘mainan’ baru untuk Dia ‘mainkan’ setelah Dia menciptakan makhluk-makhluk barunya bertebaran di bumi.

***

Namun siapa tahu dengan rencana Tuhan? Atau mungkin Tuhan tidak begitu menyenangi ‘mainan baru-Nya’ hingga akhirnya Tuhan pun berkata kepada penduduk langit:

"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Ternyata Tuhan ingin ‘memiliki’ mainan baru yang lebih mengasyikan dan ‘mengganti mainan-mainan lama-Nya’ –seperti jin dan makhluk biologis lainnya– dengan makhluk baru yang bernama... ‘Manusia’.

Sebelumnya Tuhan telah mengenalkan mainan baru-Nya kepada penduduk langit. Tapi entah apa yang direncanakan, Tuhan justru menceritakan kejelekan makhluk yang ingin Dia ciptakan itu, hingga para penduduk langit merasa kecewa dan bertanya:

"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Kepolosan penduduk langit akhirnya Tuhan jawab dengan sepotong kalimat, hingga membuat sebuah tanda tanya besar:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (QS Al-Baqarah [2]: 30)

***

Entah apa yang Tuhan inginkan, bahkan penduduk langit hanya bisa terdiam dengan jawaban-Nya. Begitu pun Azazil, yang tidak tahu-menahu tentang rencana ini.

Semua penduduk langit lebih memilih bungkam ketika Tuhan sedang berkreasi dengan ke-Maha-an-Nya. Begitu pun rencana Tuhan, toh malaikat dan Azazil pun sama-sama ciptaan-Nya. Para penduduk langit pun telah lama mengecap indahnya Surga sebagai tempat terindah di alam semesta, jadi untuk apa mereka meminta ‘hati’ setelah Tuhan memberikan kepada mereka ‘jantung’, gumam mereka.

Penduduk langit masih dalam keadaan diam tanpa kata. Dan Tuhan pun mulai bercerita kembali:

Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS Ali Imran [3]: 59)

Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS Al-Hijr [15]: 26)

Dengan bangga Tuhan memperkenalkan Adam –manusia pertama yang Dia ciptakan– kepada seluruh penduduk langit.

Semua tercengang, Mikail, Israfil, bahkan Jibril –­sang penghulu malaikat–, juga Azazil. Semua diam. Hening. Hingga terdengarlah suara yang memecahkan keheningan ketika satu diantara penduduk langit meminta kepada Tuhan untuk menguji kehebatan Adam.

Kini Tuhan sedang menyiapkan sebuah sayembara antara Adam melawan penduduk langit. Diciptakanlah oleh-Nya benda-benda. Dan soal ujiannya adalah: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”, Tuhan memantang.

Semua penduduk langit diam terpana sesaat. Tak lama, mereka mulai kebingungan dengan pertanyaan Tuhan, karena benda yang menjadi soal tidak pernah dilihat sebelumnya. Adam pun diam. Dibalik rencana, Tuhan pun berkonspirasi dengan Adam, dan itu telah diceritakan sebuah kitab suci bernama Al-Qur’an:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!" (QS Al-Baqarah [2]: 31)

Sekali lagi Tuhan ‘membentak’ penduduk langit untuk menebak nama benda-benda yang menyadi pertanyaan itu. Pertanyaan itu sekali lagi memecahkan keheningan, hingga,

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Baqarah [2]: 32)

Tidak ada yang dapat melawan konspirasi Tuhan dengan Adam.

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (QS Al-Baqarah [2]: 33)

Sekali lagi, tidak ada yang dapat menghalangi konspirasi Tuhan. Dan Adam pun terdiam setelah menjawab pertanyaan tantangan dari Tuhan dan memenankan sayembara. Mulai dari sinilah cerita yang sesungguhnya dimulai. Konflik mulai terasa. Satu hal aneh yang tidak pernah terbayangkan oleh penduduk langit akhirnya menjadi kenyataan.

Tuhan tiba-tiba memerintahkan seluruh penduduk langit untuk suatu hal yang aneh:

"Sujudlah kamu kepada Adam," (QS Al-Baqarah [2]: 34)

Ketika itu semua makhluk yang memiliki hati pastri terhenyak. Bagaikan peluru panas yang dengan dahsyatnya tertanam setelah sepersekian detik sebelumnya terlontar dari sebuah senapan. Penduduk langit tidaklah sekuat Tuhan atau lebih untuk melawan-Nya.

maka sujudlah mereka (QS Al-Baqarah [2]: 34)

Bagaikan angin kencang yang meniup ladang gandum, semua tunduk dengan sangat teratur. Langit seketika itu ‘datar’ oleh sujudnya para Malaikat. Namun. Seenggok hati masih bergejolak. Bingung mencari kebenaran nyata diantara ‘mimpi-mimpi’ aneh yang bagaikan kenyataan.

maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah [2]: 34)

Diantara datarnya langit, terdapat satu makhluk yang masih berdiri tegak tak tertunduk.

Takabur.

Sombong.

Merasa dirinya lebih di antara yang lain.

Inilah cerita klasik yang ‘kita’ imani. Bahwasanya dialah Azazil. Dialah dahulu yang Tuhan cintai, dialah yang selalu sujud untuk-Nya dari pagi hingga malam, dan hanya karena itulah, dialah Azazil yang kini ‘bernama’ Iblis untuk kita laknat.

Itulah cerita klasik yang ‘kita’ imani. Saat-saat itulah yang menjadi hari yang paling bersejarah bagi seluruh makhuk Tuhan. Hari yang paling bersejarah di seluruh alam semesta, dari awal hingga akhir penciptaanya kelak.

Itulah awal dari apa yang kita sebut ‘kehidupan’. Dengan segala penafsiran karena ketidak patuhan seorang makhluk papa yang tidak berdaya, yang dia hanya memohon harap hal yang terbaik dari Tuhan-Nya, kini dia dicaci, dimaki, dinistakan. Dan semua setuju akannya tanpa Tuhan membela dan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.

***

Cerita di atas adalah alasan mengapa hingga kini kita mencaci iblis karena menjadi makhluk yang tidak patuh kepada Tuhan. Dan mulailah kita mengenal kata setan yang tertuju padanya. Dan mulailah kita mengenal suatu makhluk yang pantas kita tuntut karena dialah sumber keburukan atasnya.

Tapi tahukah Anda cerita yang sebenarnya?

Inginkah Anda mengetahui cerita yang sesungguhnya?

Ini hanya cerita yang tersimpan sekian lama, yang sedari dulu hanya diketahui oleh orang-orang yang tahu karena-Nya yang Mahatahu.

Tahukah Anda alasan mengapa Azazil –­iblis–­ tidak tunduk kepada Tuhan. Inilah serangkaian ulasannya.

***

Masih terasa ketika itu suasana yang mencekam ketika firman Tuhan menggema di sekeliling langit untuk memerintahkan para pendukuk langit untuk sujud kepada Adam sang manusia pertama.

Hingga semua berlutut takut akan-Nya dan sujud seketika.

Namun Azazil, sesosok hamba Tuhan yang paling bersahaja dan mencintai ibadah yang kini menjadi kegemarannya mulai bertanya-tanya. Dia mulai teringatkan oleh kata-kata Tuhan:

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. (QS Ar Ra’d [13]: 15)

Azazil mulai berpikir. Apakah ini merupakan suatu ujian baginya? Karena dia pernah tuhan perintahkan untuk tidak sujud kepada selain tuhan. Itulah firman-Nya, maka apa jadinya jika sesosok Azazil sujud kepada makhluk, selain kepada tuhan? Azazil tahu bahwa ini hanyalah ujian keimanan semata baginya. Maka dari itulah, dialah Azazil, satu-satunya penduduk langit yang tidak sujud kepada Adam, dan dialah Azazil, yang tidak pernah sujud selain kepada tuhan.

Tuhan terpana. Adam diam. Malaikat-malaikat tetap bersujud. Dan Azazil pun gemetar. Ingatkah Anda ketika tuhan berkonspirasi dengan Adam untuk memenangkan sayembara? Kini setelah terpana dengan ketegaran iman seorang Azazil, Tuhan pun mulai berkonspirasi dengan Azazil untuk memainkan sebuah permainan yang kita sebut kehidupan.

***

Dibalik drama, tuhan pun memanggil Azazil dan mulai menceritakan rencana permainannya. Ternyata hal yang diungkapkan tuhan adalah untuk membuat suatu permainan bagi seluruh manusia yang kelak akan tuhan ciptakan dari keturunan-keturunan Adam.

Permainan ini bernama ‘Kebaikan dan Keburukan’. Peraturannya sangat mudah, tuhan akan menciptakan dua kondisi dalam permainan. Kondisi pertama tuhan sebut ‘kebaikan’, di sisi inilah tuhan berperan untuk memerikan imbalan berupa kebaikan bagi siapa saja yang ada dalam kondisi ini, dengan imbalan terbesarnya berupa Surga. Kondisi kedua tuhan sebut ‘keburukan’, di sini tuhan memerlukan seseorang untuk mengisi permainan untuk menggoda setiap manusia yang hendak menuju kondisi ‘kebaikan’ untuk bisa masuk dalam kondisi ‘keburukan’ karena dalam kondisi keburukan, tuhan tidak akan memberikan imbalan, sebaliknya siksaan, dengan siksaan terberatnya erupa tempat yang bernama Neraka.

Tuhan memerlukan seseorang untuk turut ikut andil dalam permainan ini, dan dia memilih Azazil sebagai pembantu penyelenggaranya. Tuhan mulai menceritakan kronologis dan hal yang harus Azazil lakukan sebagai bagian dari penyelenggara permainan. Namun tokoh Azazil kelak akan sangat berlawanan dengan tokoh tuhan dan Azazil sangat tahu konsekuensinya.

Azazil pun setuju untuk memainkannya. Hingga skenario pun mulai dibentuk dalam konspirasi ini. Kelak seakan-akan tuhan akan sangat tak acuh kepada Azazil dalam setiap tidak-tanduknya, namun Azazil hanyalah sekedar memainkan peranannya.

Hingga setelah rencana selesai, muncullah kembali tuhan dan Azazil dibalik tirai drama dan dimulailah skenario konspirasi. Tuhan mulai mengecilkan peranan Azazil dengan sekan-akan mengutuknya. Dan Azazil pun mulai bertindak seakan makhluk yang terkutuk.

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (QS Al-A’raaf [7]: 12-13)

Gemparlah suasana langit dengan suara yang bagitu memekakan telinga. Namun,

Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya". (QS Al-A’raaf [7]: 14-18)

Kini rencana meulai berjalan lancar, ketika Azazil diberikan usia yang abadi untuk bisa menggawangi permainan ini untuk selamanya menggoda manusia. Dengan bekal usia yang abadi inilah Azazil dapat menjalankan ‘perannya’ dengan mudah. Sementara di sisi Surga yang lain tuhan pun menjalankan perannya.

(Dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim". (QS Al-A’raaf [7]: 19)

Skenario menceritakan kepada kita bahwa tuhan memiliki rencana untuk menurunkan Adam dan istrinya –­Hawa dalam literatur Islam atau Eve dalam literatur Nasrani–­ dari Surga. Anda ingat ayat ini?

 Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (QS Al-Baqarah [2]: 30)

Sudah jelas bahwasanya tuhan telah berencana untuk tidak membuat Adam berleha-leha di Surga, namun justru memaksanya hengkang dari ‘dunia yang damai’ itu. Maka dari itu konspirasi bersama Azazil benar-benar harus dijalankan secara mulus. Maka Azazil dalam nuansa ‘kutukannya’ mulai bertugas dalam topeng sesosok setan. Tugas Azazil kali ini adalah untuk membujuk Adam dan Hawa mendekati pohon yang tuhan larang dan memakan buahnya.

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)". (QS Al-A’raaf [7]: 20)

Seakan-akan setan (Azazil) menggoda Adam.

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua", maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" (QS Al-A’raaf [7]: 21-22)

Tuhan murka. Azazil merasa tugasnya berjalan dengan baik. Adam dan Hawa merasa sangat bersalah.

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi". Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS Al-A’raaf [7]: 23-25)

Dan turunlah Adam juga istrinya dari Surga menuju bumi sebagai dunia yang nyata. Menandakan permainan sedang dimulai. Ya, permainan ‘Kebaikan dan Keburukan’ yang sampai saat ini masih dimainkan oleh manusia. Dan bagi umatnya yang sedang dalam berada dalam permainan, tuhan mengingatkan:

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS Al-A’raaf [7]: 27)


***

Begitu hinanya iblis di mata manusia atas tindak-tanduknya kepada mereka yang terjebak dalam rencananya. Namun percaya atau tidak, begitu dekatnya tokoh tuhan dan iblis sehingga mereka berdua begitu ‘asyiknya’ menjadi juri dalam permainan ini. Kedekatan antara tuhan dan iblis itulah yang membuat dia begitu mulia, bahkan di antara malaikat-malaikat sekali pun. Dialah satu-satunya makhluk yang begitu dekatnya dengan tuhannya. Dan sadar atau tidak, seperti apapun kita mengutuk iblis, iblis tetap tabah dalam menjalankan tugasnya, demi tuhan semata.

Coba renungkan.

Note:

Mohon untuk tidak membaca artikel ini setengah-setengah. Silakan Sahabat baca artikel keduanya, karena dikhawatrikan terjadi kesalah pahaman. Syukran.


Kolong langit, 13 Februari 2011 M
Annas Ta’limuddin Maulana

0 komentar:

Posting Komentar