Sabtu, 05 Februari 2011

Perspektif Islam: Kalaulah Sama Mengapa Berbeda?

Pernah ga Sahabat bayangin betapa sedihnya waktu kita baru mulai untuk membuat sebuah account di ‘situs jejaring sosial’ –sebut saja: FB (Facebook)–? Disana terdapat beberapa uraian diri untuk diisi. Nama lengkap, tempat tanggal lahir, kegiatan, pekerjaan / sekolah dan sebagainya. Termasuk agama...

Seperti biasa, semua terisi dengan lancarnya seperti membuat account-account di situs lain. Namun serentak hati terhenyak... saat mengisi kolom ‘agama’...

Seperti biasa. Dengan mantap tangan ini mengetik:

“I – S – L – ...”

Lalu... munculah pilihan auto-typing (sebuah alat bantu web dalam mempermudah para user) dengan pilihan-pilihannya:

1. Islam
2. Islam Sunni
3. Islam Syi’ah
4. Islam Sufi

Terdiam, merenungi apa yang baru saja terlihat... Berniat dengan mantap untuk mengatakan pada dunia maya bahwa: “Saya seorang ‘Islam’!”. Tapi ternyata munculah pilihan-pilihan itu...

***



Atau pernah ga Sahabat bayangin betapa sedihnya waktu kita membuka ‘situs enslikopedi dunia maya’ –sebut saja Wikipedia–? ‘Semua’ ilmu tercantum dalam format data berupa HTML dalam bentuk data bacaan dunia maya di situs tersebut. Termasuk didalamnya tentang masalah keagamaan...

Semua berjalan seperti biasa memang waktu Sahabat mencari ilmu tentang agama, seperti di search engine (mesin pencari) lainnya.

Tapi kembali... ketika jari ini salah mengetik tentang apa yang ingin dicari –Islam–, contoh: dalam search engine tersebut seharusnnya jari ini mengetik ‘Islam’ tapi malah menulis ‘Islma’. Halaman situs itu pun langsung membuka lembaran auto-correct-nya. Tercantum disana:

Do you mean? (apakah yang Anda maksud adalah):

1. Islam
2. Islam Sunni
3. Islam Syi’ah

Tersentak kembali hati ini. Pernahkah Sahabat begini?

***

Mungkin terkadang feeling ini ‘cuek bebek’ akan semua uraian diatas. Mungkin Sahabat pernah mengalami kejadian diatas. Tapi... apakah kita –setidaknya– pernah memikirkan betapa terbelahnya ummat ini?

Belum lagi... ummat ini terbelah dalam beberapa jamaah... –You-Know-It-And-I-Can’t-Tell

***

Sudah menjadi rahasia umum dan Sahabat pun pasti tahukan? Dimulai dari seorang pedagang sukses intelektual muda yang apa adanya dan berakhlak mulia yang ingin mencari ‘keeksistensian’ dunia yang sesungguhnya dengan berkhalwat di malam gulita di sebuah gua, risalah ini mulai terpancar ke seluruh alam semesta. Yap! Ad-Dien ul Lah, Ar-Ridha ud Dien, Al-Islam, An-Nuur un Naas, Ar-Rahmah Al-‘Alamiin... oleh beliau, Rasulullah, Nabiyullah, Al-Akhirul lil Anbiyaa, Muhammad, Abu Az-Zahra, Al-Amin, ibn Abdullah ibn Syaibah Al-Abdul Muthalib ibn Amr Al-Hasyim ibn Abdi Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka’b ibn Luay ibn Ghalib ibn Fihr Al-Quraisy (Abu Bani Quraisy), Ar-Rahmah Al-‘Alamiin, Rahimullah, Shallaullah ‘Alaihi wa Salam.

Sudah menjadi rahasia umum dan Sahabat pun pasti tahukan? Beliau saw. diberi risalah dengan petunjuk dari wahyu-Nya Ar-Rabb Al-‘Alamiin, Al-Illah Al-‘Alamiin, Allah, Ar-Rahman Ar-Rahiim Al-Asmaa Al-Husn, Jalla Jallallah, Azza’ wa Jalla, Subhanahu wa Ta’ala melalui perantara malaikat-Nya Ar-Ruh Al-Quds, Jibril, Rahimullah, ‘Alaihi Salam. yang keseluruhannya termaktub dalam sebuah kitab suci Al-Kitab Al-Quds, Al-Furqaan, An-Nuur, Al-Khabaar, Al-Qur’an, Al-Kariim, Rahimullah.

Yap! Berawal dari seorang manusia inilah ‘rahmat’ ini terpancar ke seluruh alam. Berawal dari seorang yatim-piatu, yang hanya diasuh oleh pamannya yang apa adanya inilah ‘rahmat’ ini terpancar ke seluruh alam. Berawal dari seorang dari suku badui di pedalaman padang pasir arab yang terisolir dari dunia inilah ‘rahmat’ ini terpancar ke seluruh alam.

Hingga terciptalah sebuah kekhilafahan negara kota yang ber’pancasila’kan Islam pertama setelah dilaksanakannya hijrah, ‘Madinah Al-Munawarah’. Kemudian terciptalah kerajaan yang lebih meluas ke seluruh jazirah Arab, ‘Al-Islam – Saracen’. Kemudian kerajan suci ini dapat mengalahkan dua negara adikuasa lainnya di dunia saat itu, ‘Ar-Ruum – Byzantium’, dan ‘Al-Majusy – Persia’. Hingga terbentanglah kerajaan yang kedaulatannya dipegang oleh satu khalifah.

Kerajaan terbesar di dunia yang pernah dicatat dalam sejarah. Kerajaan tersuci di dunia. Terbentang dari Cordoba di Andalusia (Spanyol) hingga Gujarat di India. Terbentang dari Eropa Barat ke Afrika Utara hingga Asia Timur. Semua dalam satu naungan kehilafahan dan berawal dari seorang muda apa adanya. ‘Islam, Empire of Faith’.

***

Maka pernahkah kita –setidaknya– berpikir dari uraian diatas?! Mengapa ummat ini bagaikan telah terbelah?! Apakah beliau saw. mengajarkan Islam menjadi beberapa golongan?! Apakah Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menjadi beberapa golongan?!

Maka pernahkah kita –setidaknya– berpikir dari uraian diatas?! Memangnya di zaman beliau saw. Islam itu terdiri dari beberapa golongan?! Apakah Allah meridhai ummat-Nya yang katanya ‘satu’ tapi jalannya berbeda?!

Maka pernahkah kita –setidaknya– renungkan?! Lantas mana yang Allah ridhai, yang ‘A’ atau yang ‘B’?! Lantas mana yang benar?! Lantas mana yang harus saya pilih?! Lantas apa bedanya ‘kita’ dengan ‘mereka’ Ahlul Kitab?! –kita tahu bahwasanya salah satu ahli kitab (afwan sebut saja ‘Kristen bukan Nasrani’) terpecah ‘aqidah’nya menjadi beberapa sekte (golongan)–

***

Memang tak perlu digembar-gemborkan tentang masalah perbedaan mahzab, golongan, atau jamaah. Karena memang itu adalah khazanah dakwah. Tapi... mulailah hati ini bergejolak ketika perang kata –debat– terbuka maupun tertutup antar jamaah dilaksanakan atau dilakukan. Baik itu dalam debat tatap muka ataupun sekedar lewat buku yang berisi hujjah saling bertentangan.

Jamaah satu mencaci jamaah yang lain, yang dimaki pun tak ingin kalah untuk mencaci. Apakah itu yang diajarkan beliau saw.?! Yang satu mensesatkan yang lain, yang disesatkan ga mau ngalah buat dikata sesat. Apakah ini yang diajarkan beliau saw.?! Yang satu menkafirkan yang lain, yang dikafirkan ga mau ngalah buat dikata kafir. Apakah itu yang diajarkan beliau saw.?!

***

Bisikan setan pun terdengar: “Udahlah, kepalang tanggung, lagian bentar lagi juga kiamat udah mau dateng, ngapain juga ummat ini dibenerin. Ingat sabda rasul, “Kelak di akhir zaman, ummatku akan terpecah kepada beberapa golongan, padahal golongan-golongan itu tidak akan memberikan manfaat sama sekali”, dan dalam riwayat lain, “Kelak di akhir zaman, ummatku akan terpecah kepada 73 golongan, padahal golongan-golongan itu tidak akan memberikan manfaat sama sekali”.” Naudzubillahimindzalik.

***

Alhamdulillah... kali ini risalah Islam sudah mulai memancarkan cahayanya kembali. Kini kebangkitan Islam mulai terasa lagi. Dilihat dari banyaknya sekarang para ikhwan yang berjenggot dan memakai baju koko, para akhwat yang memakai jilbab, nasyid yang mulai fenomenal, serta Lembaga-Lembaga Dakwah Sekolah (LDS) serta Lembaga-Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang mulai menjamur akhir-akhir ini.

Sekarangkan memang banyak organisasi seperti: Remaja Masjid, Keluarga Remaja Masjid, Keluarga Muslim, Kreativitas Anak Muslim, Dewan Keluarga Masjid, serta Ikatan Muslim Kampus.

Namun sayang... semua itu tidak dikoordinir dan tidak dinaungi oleh satu lembaga resmi –paling-paling dinaungi ‘jamaah’ masing-masing–, jadi nampaknya seakan-akan berlainan padahal tujuannya sama: “Menyebarkan risalah Islam”.

Sekarangkan memang banyak organisasi seperti: Remaja Masjid, Keluarga Remaja Masjid, Keluarga Muslim, Kreativitas Anak Muslim, Dewan Keluarga Masjid, serta Ikatan Muslim Kampus.

Tapi... semua itu hanya terlihat bergerak masing-masing saja sehingga hanya terlihat sebagai ‘keeksklusifismean’.

***

Diri ini terkadang merindukan saat zaman Islam ini benar-benar dinaungi oleh satu kekhilafahan itu. Kerajaan yang terbentang dari Andalusia hingga India . Dari Eropa, Afrika hingga Asia. Kerajaan dalam satu khilafah.

Maka timbul suatu wacana, “Mengapa kita tidak memiliki kehilafahan –lagi–? Padahal –sebut saja– Ahlul Kitab saja masih punya sistem ‘kehilafahannya’ masing-masing. –sebut saja– Yahudi dengan Rabbi-nya di ‘bumi jihad’ Israel (baca: Palestina) dan –sebut saja– Kristen –Ingat! Bukan Nasrani– dengan Paus-nya di Vatikan. Mereka punya, mengapa kita tidak? Dahulu mungkin iya, tapi sekarang mengapa kita tidak membentuknya lagi?”

Sontak terdengar pula jawabannya yang singkat serta padat, “Gimana mau punya sistem satu kehilafahan kalau ummatnya aja udah jadi ‘macem-macem’ kaya gini”.

***

Kembali lagi ke Lembaga Dakwah Sekolah/Kampus (LDS/K). Maka kalau begitu, jika tujuannya sama mengapa harus beda. Mulailah dari tingkatan terkecil. Tingkatan organisasi aktivis. Untuk menjadi satu dan memperkuat satu sama lain, hingga akhirnya terbentuklah kehilafahan yang tak sekedar utopia.
Maka, “Kalaulah Sama Mengapa Berbeda?

Catatan: Sahabat akan mulai merasa dan sedih memikirkan ummat yang terpecah ini dikala Sahabat telah membaca beberapa buku karya syaikh-syaikh yang saling menghujjah antar jamaah yang terkadang merasa paling benar sendiri. Perbedaan itu memang khazanah, tapi itu menyakitkan. Oleh karena itu, hanya mengajak, dimulaii dari hal yang kecil, mengapa kita tidak ‘bersatu’?


Ditemani senandung-senandung Islami di MQFM serta diselingi tontonan di MQTV
Bumi Allah, 4 Syawal 1430 H – 23 September 2009 M
Annas Ta'limuddin Maulana

0 komentar:

Posting Komentar