Kamis, 30 Desember 2010

Ceritamu, Semua Hanya Tentangmu

Entah hasrat apa yang ada di benak ketika raga memiliki sedikit energi dalam gontainya hidup untuk mengabadikanmu di suatu rangkaian kata yang mungkin tak berarti. Hanya ungkapan dalam hati yang (mungkin) tak kan pernah bisa terucap oleh lisan secara langsung. Dari hati ke hati.

Teringat dari dulu hingga kini:

- Engkaulah makhluk terindah yang pertama kali ku lihat. Dan sampai saat ini akan menjadi yang terindah. Bahkan untuk selamanya engkaulah yang terindah.

- Engkaulah yang paling sabar mendengar tangis teriakanku di malam hari ketika yang lain menyebutku sebagai pengganggu tidur orang lain.

- Engkaulah yang rela menuntunku. Mengajariku jalan meski tertatih dan jatuh berulang kali.

- Engkaulah yang mengajarkanku mengucapkan kata ayah kepada beliau tanpa sebelumnya ku mengenalmu.

- Engkaulah yang menemaniku saat sendiri. Mengajakku bermain. Tanpa kusadar ternyata kau sedang mengajariku sesuatu yang sangat berarti.

- Engkaulah yang pertama. Yang mengajarkanku arti kasih dan sayang. Membaca kitab-Nya. Serta menyuruhku taat hanya kepada-Nya.

Terkenang saat-saat indah tak kan terlupa:

- Ciuman hangatmu ketika tubuh ini masih mungil.

- Belaian lembutmu ketika ku beranjak menuduki bangku sekolah dasar.

- Permen bertuliskan, "Good luck.", beberapa saat sebelum pembagian nilai hasil UN SMP.

- Hingga malam larut saat kau meminta ku ajarkan bagaimana cara mengunakan internet.

Apa yang bisa ku lakukan kini, belum tentu bisa kau lakukan sekarang. Namun tanpa jasa luar biasamu. Jelas ku tak kan bisa melakukan segalanya karena itu.

Jazakillah bi jannah umi. Afwan jiddan untuk kesalahan anakmu dulu hingga kini. Yang mungkin tidak pernah membalas satu kebaikan darimu yang mengalir deras. Semoga kelak disurga-Nya kita bisa bersama kembali.


Ditemani senandung Potret - Bunda
Bumi Allah, 15 Muharram 1432 H – 22 Desember 2010 M
Annas Ta’limuddin Maulana

0 komentar:

Posting Komentar