Kamis, 24 September 2009

Dadah Ramadhan, Welcome Syawal! Idul Fitri di Kelopak Mata!

Yeah! Bye Ramadhan, selamet Idul Fitri Semua! Hehe, dikala akhir-akhir Ramadhan usai, disaat hari fitri didepan mata, jari ini sibuk ngirim sms ucapan sambut idul fitri mengenang Ramadhan, maenin kembang api di belakang rumah –udik, masa kecil kurang bahagia nih, hehe becanda–, pesta BBQ, rame-ramean maen sama temen-temen, atau sekulimet kegiatan anak muda remaja baru gede –maklum? –.

Temen-temen, perlu kita sadari pula, dikala akhir-akhir Ramadhan itu usai, dikala itu pulalah, 14 abad yang lalu, dikala Islam masih berada di jaman mudanya –dikala jaman Rasulullah Muhammad saw. –, beliau saw. bersama para sahabatnya menangis, menangis karena bulan suci itu akan pergi.

“Lho? Kenapa bukannya seneng?”



Gimana mau seneng? Pahala itu telah pergi, rahmat, magfirah, juga ampunan obralan itu telah pergi. Begitupun malam Al-Lail Al-Qadar dimana pahalanya sepantar dengan +- 80 tahun –1.000 bulan–. Pahala Al-Qur’an dengan 10 kali lipat yang kemudian dikalikan 700 kali lipat lagi itu telah tiada. Pahala shalat sunnah yang diganjar sepantar shalat wajib dan shalat wajib yang digandakan 70 kali lipat pun pergi. Zakat, infaq, shadaqah, serta amalan lainnya yang dijanjikan Surga itu telah pergi! Tiada lagi pahala ketika kita tidur atau bahkan bernafas!

Maka bagaimana dengan kita dalam meninggalkan Ramadhan dan menyambut Syawal? Persiapan seperti apakah kita dalam menghadapi Ramadahan dan menanti datangnya Syawal? Malu seharusnya melihat nabi menangis sedangkan kita berpesta pora!

Introspeksi! Seharusnya itu yang yang dilakukan. Tidak! Jika tidak dilakukan, maka sia-sialah Ramadhan kita kemarin! Apakah tujuan bertaqwa seperti yang tercantum di QS Al-Baqarah 183 telah tercapai? Bagaimana targetan kita? Tilawah kita? Shalat dan shadaqah kita?

Sambut Syawal dengan barang baru? Maka apakah hati kita baru? Telahkah kita membeli hati baru di department store sebelum Syawal itu tiba?

Maka. Yup, dengan sepenuh hati dan tulus ikhlas di hati, ‘kami’ mengajak:

“Mari sambut hari dengan hati nan fitri di bulan Syawal yang memanti!”

Jangan jadikan sia-sia bulan Ramadhan kita kemarin hanya dengan capek menahan lapar serta dahaga atau bahkan nafsu, jika akhirnya kita umbar-umbar lagi. Percuma saja mengirim sms ucapan maaf jika setelah ramadhan kita angger kekeuh keras kepala sama sifat buruk kita kemarin. Heu, sia-sia.

Hanya sebuah ajakan, lebih baik diamalkan, jangan sampai terlewatkan:

1. Introspeksi, benarkan hati diri sendiri

2. Istiqamah, tetap berada di jalan amal kebaikan. Konsisten dengan sifat baik kita selama Ramadhan

3. Refresh ulang otakmu, ciptakan masa depanmu, untuk terus maju!

4. Sering-sering beramal dan tingkatkan setelah benar-benar istiqamah dan refersh diri, apalagi jika telah muhasabah dan introspeksi diri

5. Dan yang terakhir, the last one that we hard to do: jauhi maksiat yang kemarin masih di jalani! Sia-sia kalo tuh maksiat masih jadi hobi! Hehe.

Gimana? So, what will we do buat melepas Ramadhan yang indah tenggelam serta menghadang Syawal yang cantik untuk terbit? Idul Fitri udah di kelopak mata, Sob! Dadah Ramadhan! Welcome Syawal!


Bumi Allah, 4 Syawal 1430 H – 23 Septembar 2009 M
Annas Ta’limuddin Maulana

0 komentar:

Posting Komentar