Arsitektur

Konten yang berisi materi, tugas, dan karya, khususnya saat menjadi mahasiswa arsitektur.

Grafis

Konten yang berisi kumpulan dan koleksi karya grafis pribadi.

Islam

Konten yang berisi pemahaman materi, perspektif pribadi, dan artikel ringan yang dikemas dalam bahasa yang mudah dimengerti.

Informatika

Konten yang berisi kumpulan materi dan karya dalam menggarap bidang informatika.

Wisata

Konten yang berisi catatan perjalanan dalam berwisata, baik berupa sekedar jalan-jalan, backpacking, studi banding, tour, dll.

Minggu, 11 Oktober 2009

Al-Qur'an dan Sains: Astronomi

“Subhanallah, alhamdulillah, laillahailallah, allahuakbar!” Sungguh suatu ucapan yang senantiasa ingin diteriakan keseluruh dunia jika kita tahu dan mengerti bahwasanya Al-Qur’an Al Kariim, kitab suci kita sebagai ummat Islam, benar-benar mujizat terbesar yang pernah ada dan sebuah master piece dari ‘Sang Maestro Penulisnya’, Allah subhanahu wa ta’ala.

Bagaimana tidak kita untuk mengatakan seperti itu? Mungkin kita selama ini menganggap bahwa Al-Qur’an hanyalah kitab kuno keramat sebagai pengusir setan serta mas kawin untuk diberikan. Tapi tidak jika mata Sahabat telah terbelalak.

Kelak Sahabat benar-benar tidak akan bisa berhenti mengucapkan, “Subhanallah, alhamdulillah, laillahailallah, allahuakbar!”, saat Sahabat tahu betapa memang besarnya mujizat Al-Qur’an ini. Kelak Sahabat benar-benar tidak hanya menganggapnya hanya sebagai kitab keramat yang perlu diajarkan kepada anak-anak TPA (Taman Pembacaan Al-Qur’an), dibaca kalau cuma bulan Ramadhan, dibaca kalau lagi ada masalah –ceritanya mau ngelobby ke Allah, baca Al-Qur’an kalau lagi ada maunya, hehehe–, dan lain sebagainya.


Yap, memang, bahkan semua ummat manusia di dunia pun –baik ia seorang muslim maupun non-Is, iya ga sih?– mengetahui, karena memang sudah menjadi rahasia umum bahwa Al-Qur’an adalah ‘katanya’ kitab terakhir ‘karangan’ Allah yang diturunkan melalui perantara malaikat-Nya, Jibril as. kepada nabi kita –ummat Islam– rasulullah Muhammad saw., 14 abad silam. Tapi percayakah Sahabat kalau memang benar ‘katanya’ Al-Qur’an adalah mujizat terbesar yang tak tertandingi sepanjang masa?!

Berikut adalah bukti otentik nyata yang akan disajikan dalam sebuah artikel ringan tentang Al-Qur’an yang sangat mulia dengan seluruh mujizat-mujizatnya. Satu-satunya kitab segolongan agama sebagai pedoman yang dapat menjabarkan secara nyata ilmu-ilmu pengetahuan. Yang diturunkan 14 abad yang lalu tapi baru dapat terungkap di abad 20.

***

Perhatian. Ini hanyalah sebagian kecil mujizat-mujizat Al-Qur’an terutama dari segi ilmu pengetahuan dari sekian banyak mujizat lainnya. Hanya untuk saling berbagi, membuktikan, juga memberi tahu. Resapi, jangan terheran, jangan terkaget. Inilah bukti otentik nyata itu. 14 abad yang lalu dan baru terungkap kemarin di abad 20 oleh para ilmuwan.

***

I. Kata Al-Qur’an Tentang Astronomi

Sahabat tahu ilmu yang yang satu ini, kan? Yap, astronomi, ilmu tentang alam semesta luar angkasa. Langsung saja, sekali lagi, Sahabat akan mendapatkan teori-teori ilmiah ilmuwan yang ternyata sudah terungkap 14 abad yang lalu, dikala orang-orang masih mempercayai berhala untuk disembah, meski ternyata risalah Islam ini telah menapakan ilmunya yang tinggi ke langit.

A. Teori Non-Materialistik

“Dia Pencipta langit dan bumi...” (QS Al-An’aam [6]: 101)

Keterangan yang diberikan Al-Qur'an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini.

Mematahkan teori orang-orang kuno dahulu bahkan ‘ilmuwan-ilmuwan’ sesat zaman sekarang seperti –maaf–: Darwin, Karl Max, Lenin, serta antek-anteknya yang mengatakan bahwa alam semsesta itu terjadi apa adanya dari zaman dahulu, tidak diciptakan dan tiada yang menciptakan. Heu, betapa sesatnya mereka yang mengatakan ucapan-ucapannya dalam ‘Teori Matrerialistik’ dan ‘Komunisme’, bahwa alam semesta itu tidak ada awalnya dan tidak ada yang mengawali.

“Bukti bahwa alam semesta itu diciptakan?”

B. Teori Dentuman Besar (Big Bang)

Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan "Big Bang", membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.

Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al-Qur’an 1.400 tahun lalu.

Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.

Dalam Al-Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 30)

Kata "ratq" yang di sini diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan "Kami pisahkan antara keduanya" adalah terjemahan kata Arab "fataqa", dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari "ratq". Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.

Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat "fatq". Keduanya lalu terpisah ("fataqa") satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk "langit dan bumi" yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan "ratq" ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materimateri yang dikandungnya untuk "fataqa" (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.

C. Teori Penciptaan Benda Luar Angkasa

Para ilmuan masa kini mampu mengamati pembentukan bintang-bintang dari awan gas panas. Pembentukan dari gumpalan panas juga berlaku pada penciptaan jagat raya. Penciptaan alam semesta sebagaimana yang digambarkan dalam ayat Al-Qur’an berikut ini menegasakan temuan ilmiah tersebut:

Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati." (QS Fushshilat [41]: 10-11)

Kata bahasa Arab “sama’”, yang diterjemahkan di sini menjadi “langit”, mengacu pada seluruh alam semesta. Kata “dukhanun” untuk “asap” menggambarkan materi sebelum alam semseta terbentuk, yaitu asap kosmik panas yang hadir dalam penciptaan jagat raya, sebagaimana yang kinidiakui oleh para ilmuan. Kata ini dalam Al-Qur’an menggambarkan asap dengan sangat akurat karena mengandung arti gumpalan gas hangat berisi partikel-partikel bergerak yang terhubung dengan substansi padat. Di sini, Al-Qur’an telah menggunakan kata yang paling tepat dari bahasa Arab untuk menggambarkan jagat raya dalam fase ini. Mari kita catat bahwa baru pada abad ke-20, para ilmuan menemukan kenyataan alam semseta terbentuk cari gas panas dalam bentuk asap.

D. Teori Perluasan Alam Semseta

Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus "mengembang".

Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al-Qur’an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al-Qur’an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS Adz-Dzariyaat [51]: 47)

E. Orbit dan Rotasi

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al-Qur'an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 33)

“dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS Yaasin [36]: 38)

Serta ayat-Nya yang lain:

“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,” (QS Adz-Dzariyaat [51]: 7)

Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al-Qur’an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam system gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah "berenang" sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.

Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.

Dapat dipastikan bahwa pada saat Al-Qur’an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern.

Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa "dipenuhi lintasan dan garis edar" sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al-Qur’an yang diturunkan pada saat itu: karena Al-Qur’an adalah firman Allah.

F. Bentuk Planet Bumi

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam..." (QS Az-Zumar [39]: 5)

Dalam Al-Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai "menutupkan" dalam ayat di atas adalah "takwir". Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.

Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al-Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.

Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al-Qur’an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al-Qur’an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.

G. Atmosfer dan Sabuk Van Allen

"Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya." (QS Al-Anbiyaa’ [21]: 32)

Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20.

Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup.

Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, - seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.

Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol.

Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.

Ayat ke-11 dari Surat Ath-Thaariq dalam Al-Qur’an, mengacu pada fungsi "mengembalikan" yang dimiliki langit.

"Demi langit yang mengandung hujan." (QS Ath-Thaariq [86]: 11)

Kata yang ditafsirkan sebagai "mengandung hujan" dalam terjemahan Al-Qur’an ini juga bermakna "mengirim kembali" atau "mengembalikan".

Sebagaimana diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang, marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi "pengembalian" dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut.

Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.

Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.

Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.

Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partikel radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.

Sifat lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al-Qur’an. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah.

***

Sekilas mujizat Al-Qur’an dalam satu hal, yaitu ilmu pengetahuan. Dikala ilmu pengetahuan masih minim, belum ditemukannya teori-teori yang terungkap dari seorang ilmuwan, disaat itu pulalah, 1400 tahun yang lalu, Al-Qur’an sebuah kitab master piece maestro dari ‘Sang Pengarangnya’ telah bercerita kepada kita.

Adakah mujizat ini tertandingi? Adakah kitab lainnya yang seperti ini?


Maraji’:
E-Book: Harun Yahya – Penciptaan Alam Semesta (Tim Media Itsar, 2008. E-Book Islami 1429. Bandung: Media Itsar)

Edited:
Bumi Allah, 20 Syawal 1430 H – 9 Oktober 2009 M
Annas Ta’limuddin Maulana

Jumat, 25 September 2009

Remaja dan Islam, Islam dan Remaja

“Wuih! Kayaknya kalo denger kata ‘remaja’ sama kata ‘Islam’ disatuin serasa ngeliat air sama minyak yang disatuin dalem satu gelas iya ga sih? Dunianya satu cuman dunianya beda. Dunia remaja, ya dunia remaja. Dunia Islam, ya dunia Islam.”

Eh, pendapat di atas bener ga sih? Masalahnya banyak orang berpendapat kayak gitu lho. Tapi masalah yang lain, pendapat itu bener ga sih?

Emang sih kalau kita lihat ‘dunianya’ masing-masing. Kebanyakan –bukan berarti semua ya– isi dunia ‘remaja’ –pake kutip– kan isinya emang agak-agak ‘frontal’ (baca: ga sama) dengan dunia Islami. Coba kita bongkar isi dunianya ya!


Dunia Remaja:

Tujuannya:

1. Mencari keeksistensian dunia.

2. Ingin dianggap ngetren, gaul dan sebagainya

3. Ga mau dianggap kuper sama temen-temennya

Misinya:

1. Memulai diri untuk biasa seneng sama ‘temen-temennya’ (adaptasi)

2. Deket sama musik-musik yang lagi ‘ngetren’ (ex.: pop, rock, indie, etc.)

3. Deket sama tontonan-tontonan ‘gaul’ (ex.: cinta-cintaan, musik, film-film bioskop yang udah tayang di TV, bola –buat cowo’–, dsb.)

4. Deket sama mode-mode baju yang lagi ‘in’ (ex.: indies, ngetat, pendek, transparan, rombeng-rombeng, kusem, dsb.)

5. On-Line, on-line, on-line, on-line. (Facebook, Twitter, YM, dll)

6. Pacaran! Hmmm.

7. Ngeceng! Jangan lupa, hehehe.

8. Nonton di bioskop, jalan-jalan ke distro, makan di resto, dll.

9. Main sama temen segeng, nongkrong di tepi jalan, dll.

10. Ngerokok, mabuk-mabukan, hippies, drugs

11. Muka kusem ga karuan; ditindik; ditato; rambut emo, allay, gimbal, dsb.

12. Ngegeng, gep-gepan, dsb.

13. Dan masih banyaaak lainnya yang pasti ga akan muat buat dimasukin semua ke artikel ringan ini

Program Kerja:

Mengalir apa adanya, ga terorganisir, yang penting mah ikutin aja segala yang lagi ngetren

Iya ga sih remaja kayak gitu? Sekarang ke dunia Islam, yuk! Kita bongkar satu-satu!

Dunia Islam:

Tujuannya:

Hanya satu: Mendapat ridha Allah swt. dengan cara beribadah kepada-Nya

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Misinya:

1. Menshalihkan diri sendiri

2. Menshalihkan keluarga

3. Menshalihkan masyarakat

4. Menshalihkan bangsa (komunitas tak terikat hukum)

5. Menshalihkan negara (komunitas terikat hukum)

6. Menshalihkan dunia serta alam semesta!

Program Kerja:

1. Mencari ilmu Islam terpercaya dari mana pun sumbernya (ustadz, tempat-tempat Islami, buku, kegiatan Islami, dll)

2. Ikut organisasi Islami (Remaja Masjid, Dewan Keluarga Masjid, dll)

3. Daaan lainnya

That’s it! Cuma itu tentang Islam. Hehehe, beda jauh ya? Hmmm, tapi iya gitu bener kayak gitu? Sekarang kita coba tanya pendapat dari masing-masik ‘penganut’ dunia itu untuk mengomentari satu sama lain.

Kata mereka ‘penganut’ dunia remaja:

“Iya sih, Islam itu bener, cuma gua belum bisa ngikutin nih. Nunggu tua aja deh atau enggak kalau hidayah udah dateng ngejemput.”

Kalau kata mereka ‘penganut’ dunia Islam:

“Mmm, mereka emang ga 100% salah, cuma mereka memang harus dibenerin. Jangan dimusuhin, justru dideketin agar dapat sama-sama merasakan nikmatnya risalah ini.”

Riset diatas dilakukan kepada para remaja yang berbeda idealisme di kota Bandung dengan sampel sebanyak ‘sekian’ manusia –apa sih–. Sekarang gimana kata Sahabat? Sahabat bisa milih kan yang mana yang lebih benar dan yang mana yang lebih menjurus ke arah yang lebih salah –maaf bahasanya ribet–.

Emang sih dunia remaja ga 100% salah atau ga bener, tapi tau ga, ternyata dunia remaja itu ada yang Islami lho. Singkatnya ternyata dunia remaja dan dunia Islam bisa disatuin! Lha gimana enggak, emangkan di dalam Islam juga ada bagian yang ngurusin masalah keremajaan

Jalan hidup remaja juga kan ada yang Islami. Coba liat kesejarah dulu ya. Nabi Muhammad saw. waktu remaja sudah mengikut perkumpulan anti-maksiat lho di zamannya yang padahal maksiat lagi ‘nge-tren’, namanya Hilful-Fudhl. Itu di usia remaja!

Coba liat Usamah ibn Zaid, cucu angkatnya rasulullah saw.. Di usianya yang masih 17 tahun, Usamah sudah dapat menjadi jendral yang memimpin seluruh kaum muslimin ngelawan bangsa Romawi-Byzantium yang pada saat itu adalah Negara adikuasa –kalau sekarangnya mah mungkin ‘Amerika’nya–! Bayangkan, 17 tahun! Itu di usia remaja!

Coba liat Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan kehilafahan Turki Ustmani/Turki Ottoman. Di usianya yang masih 18 tahun, beliau sudah dapat menjadi jendral yang memimpin kaum muslimin untuk menaklukan ibu kota Byzantium, Constantin (Konstantinopel), sebuah kota yang paling ‘tak tertembus’ pada zamannya, kemudian beliau taklukan dan namanya diubah menjadi Islambul (Istanbul)! Hmmm, bayangkan, 18 tahun! Itu di usia remaja!

Coba liat Imam Syafi’i, imam Mahzab Syafi’i. Di usianya yang masih 13 tahun, beliau sudah menjadi seorang hafidz (hafal Al-Qur’an Al Kariim)! Sudah dapat menjadi seorang da’i dan ilmu fikhnya sudah dipercaya oleh ulama-ulama lain yang usaianya jauuuh lebih tua darinya. Ckckck, bayangkan, 13 tahun! Itu di usia remaja!

Dan di zaman sekarang, alhamdulillah udah mulai muncul remaja-remaja generasi rabbani –tapi baru sedikiiit, heu–. InsyaAllah, sekarangkan sudah banyak Lembaga Aktivis Dakwah Sekolah/Kampus (LDK/S) yang menjamur dimana-mana, semoga dengan itu kembali akan tercetak nama-nama ‘Muhammad’, ‘Usamah’, ‘Al-Fatih’ dan ‘Syafi’i’ lainnya –amiiin–.

So, ga ada alesan buat mereka yang remaja untuk ga meng-Islami, dong. Coba bandingin remaja-remaja ‘penganut’ dunia remaja dengan beliau-beliau yang telah diterangkan diatas. Dikala remaja-remaja sekarang pacaran, rasulullah saw. muda udah ikut perkumpulan anti maksiat! Dikala remaja-remaja sekarang ngeceng, Usamah dan Sultan Al-Fatih muda telah menjadi seorang jendral! Dikala remaja-remaja sekarang ngegeng, ngumpul ga jelas, ngerokoklah, mabuk-mabukanlah, Imam Syafi’i muda telah menghafalkan Al-Qur’an!

Heu, ingin rasanya kembali melihat remaja generasi rabbani bertebaran dimana-mana. Remaja adalah awal tonggak perjuangan-Nya, maka yup bangkitkan remaja generasi muda yang siap serta istiqamah berada di jalan dakwah-Nya! Berawal dari diri sendiri untuk menjalani misi-misi Islami yang telah menjiwai. Siap? Eh, sekalian ngajak: “Ikut Lembaga-Lembaga Aktivis Dakwah, yuk!”


Bumi Allah, 5 Syawal 1430 H – 25 September 2009 M
Annas Ta’limuddin Maulana

Kamis, 24 September 2009

Dadah Ramadhan, Welcome Syawal! Idul Fitri di Kelopak Mata!

Yeah! Bye Ramadhan, selamet Idul Fitri Semua! Hehe, dikala akhir-akhir Ramadhan usai, disaat hari fitri didepan mata, jari ini sibuk ngirim sms ucapan sambut idul fitri mengenang Ramadhan, maenin kembang api di belakang rumah –udik, masa kecil kurang bahagia nih, hehe becanda–, pesta BBQ, rame-ramean maen sama temen-temen, atau sekulimet kegiatan anak muda remaja baru gede –maklum? –.

Temen-temen, perlu kita sadari pula, dikala akhir-akhir Ramadhan itu usai, dikala itu pulalah, 14 abad yang lalu, dikala Islam masih berada di jaman mudanya –dikala jaman Rasulullah Muhammad saw. –, beliau saw. bersama para sahabatnya menangis, menangis karena bulan suci itu akan pergi.

“Lho? Kenapa bukannya seneng?”



Gimana mau seneng? Pahala itu telah pergi, rahmat, magfirah, juga ampunan obralan itu telah pergi. Begitupun malam Al-Lail Al-Qadar dimana pahalanya sepantar dengan +- 80 tahun –1.000 bulan–. Pahala Al-Qur’an dengan 10 kali lipat yang kemudian dikalikan 700 kali lipat lagi itu telah tiada. Pahala shalat sunnah yang diganjar sepantar shalat wajib dan shalat wajib yang digandakan 70 kali lipat pun pergi. Zakat, infaq, shadaqah, serta amalan lainnya yang dijanjikan Surga itu telah pergi! Tiada lagi pahala ketika kita tidur atau bahkan bernafas!

Maka bagaimana dengan kita dalam meninggalkan Ramadhan dan menyambut Syawal? Persiapan seperti apakah kita dalam menghadapi Ramadahan dan menanti datangnya Syawal? Malu seharusnya melihat nabi menangis sedangkan kita berpesta pora!

Introspeksi! Seharusnya itu yang yang dilakukan. Tidak! Jika tidak dilakukan, maka sia-sialah Ramadhan kita kemarin! Apakah tujuan bertaqwa seperti yang tercantum di QS Al-Baqarah 183 telah tercapai? Bagaimana targetan kita? Tilawah kita? Shalat dan shadaqah kita?

Sambut Syawal dengan barang baru? Maka apakah hati kita baru? Telahkah kita membeli hati baru di department store sebelum Syawal itu tiba?

Maka. Yup, dengan sepenuh hati dan tulus ikhlas di hati, ‘kami’ mengajak:

“Mari sambut hari dengan hati nan fitri di bulan Syawal yang memanti!”

Jangan jadikan sia-sia bulan Ramadhan kita kemarin hanya dengan capek menahan lapar serta dahaga atau bahkan nafsu, jika akhirnya kita umbar-umbar lagi. Percuma saja mengirim sms ucapan maaf jika setelah ramadhan kita angger kekeuh keras kepala sama sifat buruk kita kemarin. Heu, sia-sia.

Hanya sebuah ajakan, lebih baik diamalkan, jangan sampai terlewatkan:

1. Introspeksi, benarkan hati diri sendiri

2. Istiqamah, tetap berada di jalan amal kebaikan. Konsisten dengan sifat baik kita selama Ramadhan

3. Refresh ulang otakmu, ciptakan masa depanmu, untuk terus maju!

4. Sering-sering beramal dan tingkatkan setelah benar-benar istiqamah dan refersh diri, apalagi jika telah muhasabah dan introspeksi diri

5. Dan yang terakhir, the last one that we hard to do: jauhi maksiat yang kemarin masih di jalani! Sia-sia kalo tuh maksiat masih jadi hobi! Hehe.

Gimana? So, what will we do buat melepas Ramadhan yang indah tenggelam serta menghadang Syawal yang cantik untuk terbit? Idul Fitri udah di kelopak mata, Sob! Dadah Ramadhan! Welcome Syawal!


Bumi Allah, 4 Syawal 1430 H – 23 Septembar 2009 M
Annas Ta’limuddin Maulana

Rabu, 23 September 2009

Biar Liburan-Lebaran Loe Ga Bete!

Hehehe, liburan datang, lebaran menghadang! Haha, mantap, liburan-lebaran, liburan lantaran lebaran, setahun sekali, Sob! Waaah, mau ngapain nih enaknya. Mmm, pasti banyak agenda untuk dijalankan, melihat begitu banyaknya kegiatan yang bisa kita jalanin di liburan kali ini, di lebaran yang akan nanti.

Eiiits, tar dulu, jangan langsung mikir entar mau ngapain aja ih! Pikirin dulu, temen-temen, kemarin kita udah melewatkan suatu momen penting nih, yakni Ramadahn watunya bershaum-shaum ria, nah, gimana nih, setelah kita melewati adrenalin tantangan kita di bulan Ramadhan kemarin, sekarang di liburan-lebaran kita mau ngapain nih?

Jangan lakukan hal yang sia-sia, sebagai hasil dari tempaan juga binaan di bulan Ramadhan kemarin! Sip, itulah yang seharusnya temen-temen pikirkan sebelum ngebuat jadwal agenda isi liburan-lebaran. Nah bingung ya sekarang mau jadi ngapain aja –soalnya tadi yang kepikiran di pengisi liburan-lebaran adalah hal yang sia-sia, iya kaaan?–. So, mau tau refensi-refrensinya buat liburan kemarin?


“Mau, mau!”

Oke deh, nih saya kasih refrensi yang murni keluar dari hasil pemikiran, keringat serta paksaan otak untuk mengeluarkan ide yang kemudian di tuangkan kedalam sebuah artikel ringan ini saya atas semua teori dasar bermain tanpa melakukan hal yang sia-sia –he, geuleuh gini bahasanya–. Mau tahu apa aja? Niiih:

1. Buat temen-temen yang hobi baca! Yup kita hunting buruan bacaan nan bermanfaat! Udah nungguin kita tuh toko-toko buku buat kita datengin! Ga percaya? Tuh ada Gramedia, Togamas, Gunung Agung, Palasari, mmm, atau stand-stand bazar + seminar yang isinya jualan buku tuh! Atau bisa minjem juga buat yang ga punya duit banyak! –haha–

2. Buat yang demen ber-adventure ria! Oke, kita rihlah alias bercape-cape ria demi mendapatkan sensasi petualangan! Berani? Tuh gunung udah nantengin kita buat di daki –ceritanya ada gunung yang cengos nantangin kita buat didaki, hehe–, ada Tangkuban Parahu! Manglayang! Puntang! Ato kalo ga mau terlalu garing, kemping aja sekalian! -_-“

3. Buat yang doyan jalan-jalan? Ajakin ummi sama abi –your mother and your father– + keluarga lainnya –adek, atau kakek, eh kakak, kakek juga ga ada salahnya sih kalau diajakin bareng nenek– atau temen-temen se-geng pergi ke tempat-tempat pameran buku islami atawa seminar-seminar remaja islami yang dijamin mata ga akan nutup juga nangis –alias ngantuk atau ngebosenin, hehe–, yup! Dapet banyak hikmah tuh! –hati-hati buat ikhwan yang salah niat ke pameran islami buat ngeceng akhwat berjilbab tuh! Haha!–

4. Buat yang seneng shopping! Kali-kali ke disto islami dong buat beli baju-baju sama pernak-pernik uchuld[1] –alay mode:on– islami! Alifa, Rabbani, Shafira, Fahira atawa[2] tempat shopping islami lainnya? –wuih, jadi promosi distro islami gini? –. Kali-kali tampak cantik pake baju muslim-muslimah tuntutan syar’I dooong, hehe –bercanda, suer, cuma ngajak ke arah kebaikan doang -_-‘–.

“Heu, saya mah ga bisa pergi kemana-mana eung, huhu, sedih.”

5. Hehe, “jangan bersedih oh kawanku, aku masih ada disini!”. Tenang! Buat loe yang kekerem[3] –baca: terjebak, terkurung, atau terperangkap– di rumah! Temen-temen kan bisa baca buku atawa nonton DVD positif yang kemarin udah temen-temen beli –jangan yang negatif ya! Justru yang saya saranin buku atau film yang berlatarkan Islam! –. Lumayan tuh, pengisi waktu luang dengan agenda positif.

6. Daaan seabreg kegiatan positif lainnya yang tak dapat saya tuliskan lagi di artikel ini karena telah over memenuhi batas ujung nulis di bagian kali ini. –hehe–

Sekiaaan. So! No more alesan lagi buat kita untuk ngisi liburan-lebaran kita dengan kegiatan positif, ok?! Ada lagi some idea buat ngisi liburan-lebaran sensasi positif? ^^


Bumi Allah, 4 Syawal 1430 H – 23 September 2009 M
Annas Ta’limuddin Maulana


[1] Uchuld = Lucu (bahasa alay)

[2] Atawa = Atau (bahasa Sunda)

[3] Kekerem = Terkurung (bahasa Sunda)